
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta mencatat timbulan sampah mencapai sekitar 30 ton selama perayaan malam pergantian Tahun Baru 2026.
Sampah tersebut berasal dari berbagai titik keramaian yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, mengatakan pihaknya telah menyiagakan ratusan personel kebersihan untuk memastikan kebersihan kota tetap terjaga usai perayaan tahun baru.
“Sebanyak 175 personel kebersihan kami turunkan, didukung armada truk dan tim lapangan. Mereka ditempatkan di titik-titik krusial dan strategis yang berpotensi terjadi keramaian, seperti Tugu Yogyakarta, Titik Nol Kilometer, dan kawasan Ngabean,” ujar Rajwan, Kamis (1/1/2025).
Rajwan menjelaskan, tim kebersihan mulai bergerak merapat ke lokasi-lokasi kegiatan sejak pukul 00.15 WIB, sesaat setelah perayaan pergantian tahun usai.
“Alhamdulillah, semua tim langsung bergerak. Sekitar pukul 01.00 WIB, seluruh kawasan sudah bisa kami bersihkan. Kota kembali bersih untuk menyambut tahun baru,” jelasnya.
DLH Kota Yogyakarta Catat Total Sampah
Dari hasil pengangkutan sampah di masing-masing titik, DLH mencatat total sampah yang terkumpul mencapai sekitar 30 ton. Sampah tersebut kemudian dibawa ke depo-depo pengelolaan sebelum didistribusikan ke unit-unit pengolahan sampah yang dimiliki dan bekerja sama dengan DLH.
“Secara kapasitas, sampah yang dibawa ke unit pengolahan masih bisa tertangani,” tambah Rajwan.
Sementara itu, peningkatan volume sampah juga dirasakan di tingkat depo. Pengelola PT Jogja Olah Sampah, Arif Budiono, menyebut Depo Purawisata di Kecamatan Mergangsan mengalami kenaikan timbulan sampah sekitar dua ton dibanding hari biasa.
“Biasanya masuk dua truk besar, kalau ekuivalen sekitar empat dam. Tadi malam menjadi lima dam, artinya ada kenaikan sekitar 20 persen,” kata Arif saat ditemui di Depo Purawisata.
Arif menjelaskan, Depo Purawisata merupakan salah satu dari tiga depo besar di Kota Yogyakarta, selain Mandala dan Pringgokusuman.
Sampah dari depo ini selanjutnya akan dikirim ke fasilitas pemilahan Jogja Olah Sampah Melati di Berbah.
“Hari ini ada lima truk besar yang masuk. Kami menggunakan truk berkapasitas besar agar lebih efisien, menghemat tenaga, kendaraan, dan jarak tempuh,” jelasnya.

Ia menambahkan, PT Jogja Olah Sampah merupakan mitra pihak ketiga DLH Kota Yogyakarta. Dalam pengelolaannya, pihaknya juga terus mendorong pemilahan sampah sejak dari sumber, terutama di tingkat warga.
“Kami mengedukasi warga untuk memilah sampah. Penggerobak yang kami beli juga sudah terpilah, dan warga yang mau memilah kami beri insentif,” ungkap Arif.
Menurutnya, jenis sampah yang masuk masih didominasi sampah rumah tangga dan aktivitas wisatawan. Untuk kegiatan besar di titik-titik sentral kota seperti Malioboro atau Alun-alun, penanganan langsung dilakukan oleh DLH, sedangkan PT Jogja Olah Sampah lebih banyak menangani wilayah permukiman.
Depo Purawisata sendiri melayani wilayah dengan radius sekitar lima kelurahan, meliputi Mantrijeron, Panembahan, Keparakan, Ngupasan, dan Prawirodirjan.
Dengan kolaborasi antara DLH dan mitra pengelola, diharapkan lonjakan sampah saat momen besar seperti tahun baru dapat tertangani dengan baik tanpa mengganggu kebersihan kota. (Hadid Husaini)
