
Blora, Kabarterdepan.com — Baru beberapa hari ditahan oleh Polda Jawa Tengah (Jateng), karena dugaan kasus penipuan, Ketua Pemuda Pancasila Blora, Munaji (44), jatuh sakit, Senin (19/5/2025).
Ketua Pemuda Pancasila Blora itu, akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Semarang untuk mendapatkan perawatan intensif.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng, Kombes Pol Dwi Subagio, mengungkapkan, kondisi Munaji menurun drastis saat dalam tahanan, bahkan sempat lemas.
“Gula darahnya naik tajam, badannya lemas. Kami segera bawa ke Rumkit (Rumah Sakit) Bhayangkara untuk dirawat,” ujarnya, melalui keterangan tertulis, Selasa (20/5/2025).
Meski begitu, Kombes Subagio, menegaskan bahwa proses hukum terhadap Munaji tetap berjalan di Polda Jateng.
“Statusnya tetap sebagai tahanan. Penanganan medis tidak menghentikan proses hukum,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui, pria yang akrab disapa “Mbah Mun” itu, ditangkap Polda Jateng, pada Sabtu 17 Mei 2025, oleh Tim Gabungan Satgas Gakkum Operasi Aman Candi 2025.
Ketua Pemuda Pancasila Blora itu diduga terlibat dalam kasus penipuan pengadaan solar industri fiktif, yang menyebabkan kerugian korban hingga lebih dari Rp333 juta.
Kasus ini bermula dari laporan seorang korban yang dibuat pada 11 Mei 2025. Dalam laporannya, korban mengaku ditipu oleh Munaji dengan janji pengiriman solar industri yang ternyata tidak pernah ada.
Selain Munaji, penyidik Polda Jateng, juga mengamankan seorang perempuan berinisial WH (45), warga Todanan, Blora. WH diduga berperan membantu meyakinkan korban dalam skema penipuan yang diduga dilakukan oleh Ketua Pemuda Pancasila Blora.
Lalu, modus yang dilakukan Munaji, adalah menawarkan kerja sama bisnis, pengadaan solar industri. Pelaku mengaku sebagai humas dari sebuah perusahaan dan menjanjikan pengiriman solar industri. Padahal, gudang perusahaan tersebut sudah tidak beroperasi sejak Juli 2022.
Pelaku disebut menjanjikan pengiriman solar dengan syarat korban menyetorkan uang sebagai deposit. Untuk meyakinkan korban, pelaku bahkan mengklaim memiliki koneksi dengan komisaris perusahaan terkait.
Penipuan terjadi pada rentang waktu Agustus hingga September 2022. Hingga saat ini, penyidik masih mendalami keterlibatan pihak-pihak lain dan kemungkinan adanya korban tambahan. (Fitri)
