
Sleman, kabarterdepan.com – Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman estimasi terjadi penurunan kunjungan wisata pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024.
Kepala Dispar Sleman Edy Winarya menyampaikan bahwa pergerakan wisatawan yang ada di Bumi Sembada pada Nataru kali ini mencapai 250 ribu hingga 300 ribu wisatawan.
Jumlah wisatawan disebutnya akan banyak didominasi oleh wisatawan nasional khususnya Pulau Jawa.
“Perputaran didominasi wisatawan nusantara, terutama di Pulau Jawa dan wisatawan mancanegara,” katanya saat jumpa pers di Rumah Dinas Bupati Sleman, Beran, Tridadi, Sleman, Kamis (11/12/2025).
Dispar Sleman Bandingkan Kunjungan Wisatawan
Dirinya membandingkan dengan asumsi kunjungan wisatawan Nataru mendatang yang sebelumnya disampaikan oleh Provinsi DIY sejumlah 400 ribu wisatawan.
Adapun perkiraan uang yang dikeluarkan (spending money) disebutnya rata-rata di antara Rp750 ribu hingga Rp1 juta.
“Kalau dengan perkiraan wisatawan tidur di hotel dan makan, saya kira lebih dari itu. Tapi estimasi saja long of stay 1 sampai 2 hari,” katanya.
“Ketika mereka berbelanja Rp700 ribu sampai Rp1 juta dalam 2 hari dengan 250 sampai 300 wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Sleman,” kata Edy.
Sedangkan kisaran keseluruhan perputaran uang selama Nataru (22 Desember 2025 – 4 Januari 2026) disebutnya mencapai Rp187 miliar hingga Rp500 miliar.
Ia menyampaikan penurunan kunjungan dan perputaran uang pada Nataru mendatang akibat kondisi ekonomi secara nasional.
“Saya kira kondisi kita saat ini sedang tidak kondusif,” katanya.
“Asumsi yang mempengaruhi penurunan target spending money, lama tinggal, hingga perputaran uang itu yang pertama kondisi perekonomian perekonomian tapi prinsip kondisi ekonomi sekarang mempengaruhi keputusan orang berwisata,” katanya.
Termasuk kebijakan pemotongan Transfer Keuangan Daerah (TKD) memaksa pemerintah daerah melakukan efisiensi.
Sementara itu Kepala Bidang Pemasaran Dispar Sleman Kus Endarto menyampaikan bahwa total kunjungan tahun kali ini menurun dibandingkan tahun 2024.
“Kita masih menghitung semuanya. Tapi kalau tadi dari prediksi, kalau tahun lalu itu sekitar di angka 8 juta tahun ini prediksi sementara kita di angka 7,6 juta atau penurunan 400 ribu,” katanya.
Ia menyampaikan beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan kunjungan diantaranya efisiensi yang dilakukan pemerintah.
“Adanya efisiensi, kemudian larangan adanya study tour, kemudian cuaca dan juga kondisi ekonomi,” kata Kus.
Ua menyampaikan bahwa kondisi ekonomi yang menurun tidak hanya terjadi di Kabupaten Sleman. (Hadid Husaini)
