Dispar Kota Yogyakarta Tak Ingin Pariwisata Mandek Meski Ada Efisiensi Anggaran

Avatar of Redaksi
Screenshot 20250222 103344
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko saat diwawancarai wartawan dalam acara Sarkem Fest 2025, Jumat (21/2/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, Kabarterdepan.com – Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko berharap seluruh komponen pariwisata bisa terus bergandengan di tengah dampak efisiensi anggaran.

“Kalau berhenti berusaha, temen temen media berhenti mempublikasikan, temen temen swasta juga berhenti, ini bisa berubah 180 derajat, amit-amit, naudzubillah,” katanya saat ditemui wartawan di Jalan Sosrowijayan, Kelurahan Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Jogja, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (21/2/2025).

Terkait dengan efisiensi anggaran pemerintah, ia menyampaikan justru dampaknya bagi Dinas Pariwisata tidak begitu terasa.

Wahyu menuturkan jika efisiensi anggaran tersebut tidak merubah alokasi di dunia pariwisata, meskipun dirinya menyebut harus ada prioritas yang dibangun.

Pemkot Yogyakarta disebutnya terus memberikan ruang agar pariwisata sebagai penopang ekonomi di Kota Yogyakarta dengan terus menyelenggarakan event-event kepariwisataan.

Dengan event yang diselenggarakan diharapkan bisa menjadikan daya tarik bagi wisatawan. “Harapannya bisa berdengung atau netizen atau wisatawan yang akan datang ke Kota Yogyakarta,” katanya.

“Yang penting melibatkan ekosistem untuk bisa tinggal dan hidup di lokus seperti Pasar Kembang kita coba libatkan ekosistem yang ada di jalan Sosrowijayan, atau Pasar Kembang keseluruhan swasta,” katanya.

Ia menyebut jika agenda tahunan atau calendar of event tidak terdampak akibat efisiensi yang dilakukan oleh pemerintah.

Wahyu menyampaikan jika kegiatan pariwisata yang dibiayai oleh Pemkot Yogyakatta hanya kisaran 5 persen, dan sisanya dibiayai oleh swasta hingga komunitas.

“Event ini sifatnya sebagai trigger yang bisa direplikasi, bisa diulang dengan tema yang sama,” katanya.

Wahyu mencontohkan kegiatan pariwisata yang berasal dari kearifan lokal dengan munculnya komunitas Bakpia D di Ngupasan, Gondomanan. Ia menyampaikan jika intervensi yang dilakukan pemerintah tidak secara keseluruhan.

“Masyarakat intervensi pemerintah  gak begitu masum menyelenggarakan sendiri dan diberikan tajuk bakpia D,” katanya.

Dirinya berharap seluruh komponen wisata di Kota Yogyakarta bisa bergerak bersama-sama. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page