
Blora, Kabarterdepan.com – Pertamina EP Cepu Field Zona 11 akhirnya menyetujui perbaikan jalan menggunakan tanah grosok di akses menuju Desa Semanggi, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Keputusan ini diambil menyusul aksi penghadangan alat berat oleh warga setempat.
Humas Pertamina EP Cepu Field Zona 11, Sony Aditya, menyatakan bahwa pihaknya mengakomodasi tuntutan warga untuk memperbaiki jalan yang rusak parah akibat aktivitas kendaraan berat milik perusahaan.
“Permintaan warga untuk material pedel (tanah grosok) akan kami bantu,” ujar Sony, Jumat (13/6/2025).
Sony menambahkan, timnya telah melakukan survei lokasi kerusakan jalan, dan menyepakati 10 titik kerusakan yang akan ditangani dengan pengurukan dan pemadatan tanah grosok.
“Untuk total volume tanah yang diturunkan saya belum bisa pastikan, tapi pengurukan sudah mulai dilakukan sejak kemarin (Kamis (12/6/2025)),” imbuhnya.
Sebelumnya, puluhan warga Desa Semanggi menghadang kendaraan alat berat milik Pertamina yang hendak melintasi jalan rusak menuju lokasi pengeboran minyak di wilayah mereka, Kamis (12/6/2025).
Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas rusaknya jalan desa akibat lalu-lalang kendaraan operasional Pertamina.
Jalur yang dimaksud merupakan akses utama dari Pos Ngodo BKPH Kalisari menuju Dukuh Ngodo. Sepanjang sekitar 4 kilometer jalan mengalami kerusakan berat, termasuk satu jembatan yang terdampak.
Warga menuding aktivitas truk vacuum milik Pertamina sebagai penyebab utama kerusakan. Mereka menilai, selama ini tidak ada kontribusi nyata dari perusahaan dalam memperbaiki jalan yang juga digunakan oleh warga untuk aktivitas sehari-hari.
“Setiap hari kendaraan berat Pertamina lewat sini. Dari Pos Ngodo ke Desa Ngodo sekitar 3 kilometer, dari Semanggi ke Ngodo 1 kilometer, semuanya rusak,” ujar Sutikno, salah satu warga.
Menurutnya, kerusakan jalan sangat mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan warga. Saat musim hujan, kondisi semakin memburuk karena jalan menjadi becek dan licin.
“Anak-anak sekolah kesulitan lewat. Kalau hujan, jalan makin parah, jembatan pun rusak,” tambahnya.
Sutikno menyebutkan bahwa aksi serupa sebenarnya pernah dilakukan warga pada 2018, namun hingga kini belum ada respons konkret dari Pertamina.
“Selama ini kami hanya bisa tambal sulam pakai grosok dari hasil panen, tapi jelas tidak cukup. Jalan ini digunakan warga dan juga perusahaan, semestinya ada tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Warga berharap Pertamina menunjukkan komitmen sosialnya dengan memperbaiki jalan secara permanen, seperti melalui pengaspalan atau betonisasi. Selain itu, mereka juga meminta pemasangan penerangan jalan umum demi keamanan pengguna pada malam hari.
“Kalau bisa sekalian dibangun permanen, dan lampu jalan juga harus diprioritaskan karena malam hari gelap sekali,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, warga setempat berharap ada komunikasi yang lebih terbuka antara perusahaan dan masyarakat, agar permasalahan serupa tidak kembali terulang di kemudian hari. (Fitri)
