
Jakarta, Kabarterdepan.com – Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menegaskan pentingnya penerapan etika dan tanggung jawab dalam penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia media dan jurnalisme terutama dengan maraknya fenomena konten berbasis emosi.
Komaruddin menilai kehadiran AI membawa dampak positif dalam berbagai bidang termasuk dunia akademik dan bisnis.
“AI itu positifnya bagi saya sangat terbuka, mudah diakses, sehingga dalam dunia bisnis, di dunia akademik itu sangat membantu untuk mengecek informasi,” ujarnya dalam acara Literasi Media di Era Artificial Intelligence (AI) bertajuk Membangun Masyarakat dan Jurnalisme yang Etis dan Bertanggung Jawab di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Kamis (9/10/2025).
Ia menilai bahwa yang membuat AI menjadi merepotkan yakni sering kali digunakan secara tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi palsu atau hoaks.
Dewan Pers Singgung Jual Konten Berbasis Emosi
Komaruddin mengungkapkan bahwa perkembangan AI turut memunculkan tren baru dalam dunia digital, yaitu maraknya konten berbasis emosi.
“AI itu bisa digunakan bagi mereka yang menjual emosi, karena masyarakat sekarang itu sebagian bukannya melihat benar atau salah tapi like or dislike, senang atau enggak senang. Jadi pendekatannya emosional bukan rasional,” tuturnya.
Komaruddin mencontohkan konten podcast di platform YouTube yang bersifat sensasional cenderung lebih cepat menarik perhatian publik dibandingkan yang bersifat edukatif.
“Dengan AI dan data source, orang yang menjual emosi itu followers-nya cepat sekali meningkat. Saya amati podcast dan YouTube, kalau yang dijual rasional itu kecil, tapi kalau yang sensasi cepat sekali, dan itu dapat monetisasi,” jelasnya.
Komaruddin menegaskan bahwa secanggih apa pun AI, teknologi ini tetap tidak memiliki kesadaran moral.
“AI itu smart server, mitra klien yang paling smart itu AI, bahkan kadang-kadang terlalu smart dari majikannya. Buka saja AI di ChatGPT atau DeepSeek, tanyakan apa, dalam hitungan menit muncul semua,” katanya.

Ia menekankan bahwa AI tidak dapat dijadikan acuan etika karena ia tidak memiliki kesadaran seperti manusia.
“Hanya saja dia tanpa kesadaran, AI itu has no any consciousness. Jangan tanya soal etika pada AI, dia bisa menjelaskan deskripsi etika itu apa tapi dia bukan agent yang punya kesadaran. Yang punya etika adalah kita,” tegas Komaruddin.
Etika dalam Informasi Publik
Komaruddin menekankan bahwa akhlak, moral, dan etika merupakan satu kesatuan yang harus dipegang kuat, terutama dalam dunia jurnalistik.
“Akhlak, moral, dan etika itu sebetulnya sudah menyatu, kaitannya dengan AI karena informasi itu sangat dominan pengaruhnya dalam mempengaruhi emosi dan perilaku masyarakat. Salah satu ciri masyarakat yang maju adalah surat kabar yang menjunjung tinggi prinsip keadaban,” jelasnya.
Selain itu, Komaruddin mengingatkan bahwa karya jurnalistik memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik dan arah sejarah bangsa.
“Jadi dimulai dari apa yang ada dalam buku, itu knowledge and ethic. Informasi itu kategorinya macam-macam ada yang kuat, menakutkan, menghibur, tapi ada yang mencerahkan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa wartawan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk pandangan masyarakat terhadap realitas.
“Anda sebagai penulis tidak akan pernah habis-habisnya untuk memberitakan kepada masyarakat, karena di balik berita itu Anda bisa mengorek apa, mengapa, jadi satu analisis, wisdom di balik berita,” tandasnya.
Acara ini terselenggara berkat kerjasama Dewan Pers dengan GoTo Company. (*)
