
Semarang, kabarterdepan.com – Aksi demo ricuh tolak dinasti politik di Semarang yang terjadi Senin (26/8/2024) malam menyebabkan sejumlah mahasiswa dan polisi jadi korban.
Demo yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sejumlah kampus di Balai Kota Semarang dan Gedung DPRD Kota Semarang itu berakhir dengan kericuhan.
Di tempat lokasi demo ricuh itu terlihat ada dua orang yang dibawa menggunakan ambulans meninggalkan lokasi. Tim medis dari Unnes, Fahri, menyebut keduanya adalah mahasiswi.
Dia menyebut keduanya mengalami sesak napas karena terkena gas air mata. Menurutnya, gas air mata terhirup hingga ke halaman Mal Paragon.
Pengacara LBH Semarang, Tuti Wijaya, menyebut ada 21 pelajar dan 6 mahasiswa yang diamankan aparat dalam aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Semarang.
Sementara Kasatreskrim Polrestabes Semarang, Kompol Andika Dharma Sena juga sempat menemui tim LBH Semarang.
“Saat ini orang-orang yang diamankan sedang didata. Silakan tim kuasa hukum nantinya untuk mendampingi setelah seluruhnya dilakukan pendataan,” ujarnya di Markas Polrestabes Semarang, Selasa (27/8/2024).
Terpisah, Kapolrestabes Semarang, Kombes Irwan Anwar, mengatakan Wakil Kepala Satuan Intel Polrestabes Semarang terkena semacam ‘tombak’ di pipi kanannya.
“Ada beberapa korban, bahkan Wakasat Intel Polrestabes itu terkena ‘tombak’ di pipi kanannya,” jelas Irwan.
Di kesempatan berbeda Kabidhumas Polda Jateng Kombes Pol Artono menuturkan, aksi yang sebelumnya berlangsung tertib kemudian berujung pada tindakan anarkis oleh peserta unjuk rasa, yang melakukan perusakan fasilitas umum yaitu merusak pintu gerbang Balai Kota Semarang.
Kemudian aksi berlanjut mengakibatkan terganggunya aktivitas masyarakat, dan arus lalu lintas kendaraan menuju Jl. Pemuda dialihkan petugas guna menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan.
Petugas juga berjaga di depan Kantor Balai Kota Semarang sembari terus memberikan imbauan persuasif agar para pendemo menyampaikan aspirasi secara tertib dan tidak melakukan tindakan anarkis.
Situasi yang semakin memanas terjadi pada sore menjelang petang. Meskipun sejak siang hingga sore polisi sudah menghimbau agar unjuk rasa berjalan dengan tertib, namun massa justru semakin agresif dan mulai melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan umum seperti melemparkan batu, kayu dan benda keras lainnya.
Kombes Pol Artanto, menjelaskan, tindakan demo ricuh menjurus anarkis yang terus menerus dilakukan tidak dapat ditoleransi hingga akhirnya petugas terpaksa mengambil tindakan tegas untuk membubarkan pendemo.
“Kami sudah berupaya melakukan pendekatan persuasif dan berharap aksi ini bisa berjalan dengan damai. Namun, upaya tersebut tidak dihiraukan, dan situasi semakin tidak terkendali. Tindakan tegas terpaksa diambil untuk membubarkan massa dan menjaga keamanan di sekitar lokasi,” ujarnya.
Meski sempat terjadi kekacauan, petugas akhirnya berhasil memaksa massa menjauh dari lokasi aksi dan mengakhiri kericuhan menggunakan Water cannon. (Ahmad)
