
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Suherlin, seorang pembatik asal Kota Mojokerto, membuktikan bahwa dengan semangat, kerja keras, dan dukungan yang tepat, siapa pun dapat meraih kesuksesan. Kisah inspiratifnya dimulai dari keterlibatannya dalam pelatihan Inkubasi Batik yang digelar oleh Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopukmperindag) Kota Mojokerto, yang kemudian membawanya pada pencapaian luar biasa dalam dunia batik.
Batik bukanlah hal yang asing buat Suherlin. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat orang tuanya yang merupakan pembatik, bahkan sering membantu dalam proses pewarnaan batik. Meski demikian membatik baru secara serius ia tekuni pada tahun 2021. Dengan mengikuti berbagai pelatihan membatik yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Mojokerto.
“Saya ikut pelatihan Inkubasi Batik yang digelar oleh Diskopukmperindag, belajar selama enam bulan, dan juga mendapat kesempatan untuk belajar di beberapa tempat seperti Balai Besar Kerajinan dan Batik di Yogyakarta, serta daerah-daerah pengrajin batik lainnya seperti Pekalongan, Trenggalek, dan Madura,” kata Suherlin.
Setelah menguasai berbagai teknik pembuatan batik, Suherlin memantapkan diri memperluas usaha menjahitnya dengan membuka usaha batik di Lingkungan Keboan, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari. Ia menambah modal usahanya dengan kembali mengajukan pinjaman melalui PT. Permodalan Nasional Madani (PNM) yang juga telah membantunya dalam permodalan usaha sejak tahun 2017.
“Kalau pesanan banyak, modalnya juga harus banyak. Jadi, saya memutuskan untuk meminjam modal melalui program Mekar dari PNM. Pertama bergabung saya mengajukan pinjaman modal sebesar dua juta, untuk batik sudah dua kali mendapat bantuan modal, masing-masing sebesar delapan juta rupiah,” terang Suherlin.
Ia mengisahkan bahwa dari bantuan modal tersebut digunakan untuk membeli bahan baku, alat-alat batik, serta kebutuhan untuk proses pewarnaan. Suherlin sendiri memproduksi batik dengan teknik tulis dan cap. “Alhamdulillah, saya bisa menyerap tenaga kerja cukup banyak, mulai dari tenaga untuk mencanting, ngecap, pewarnaan, hingga pelungsuran,” katanya.
Saat ini, usaha batik Suherlin telah berkembang pesat. Dengan tiga pegawai tetap, dari usaha batiknya ia mampu meraih omset hingga sebesar empat juta setiap bulannya. Dan omsetnya bisa lebih dari empat juta jika ada pesanan dan bahkan mampu mempekerjakan hingga sembilan orang yang mayoritas saudara atau tetangganya jika ada pesanan besar.
Kesuksesan para pelaku UMKM di Kota Mojokerto juga menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi bagi Pemerintah Kota Mojokerto. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa program dan anggaran yang telah disiapkan oleh pemerintah benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
“Sejak awal sudah kita siapkan berbagai pelatihan, kami siapkan anggarannya, masyarakat dapat memilih bidang apa yang menjadi minatnya. Dan jika berhasil tentu akan meningkatkan ekonomi masyarakat dan mencapai kesejahteraan untuk Kota Mojokerto,” kata Sekretaris Daerah Kota Mojokerto, Gaguk Tri Prasetyo.
Kisah sukses Suherlin ini menjadi contoh nyata betapa pentingnya pembinaan, pelatihan, dan dukungan permodalan bagi pelaku usaha kecil. Dengan semangat pantang menyerah dan bantuan yang tepat, siapa pun bisa meraih sukses, meski dimulai dari usaha kecil sekalipun. (*)
