
Malang, Kabarterdepan.com – AIESEC in UB melalui program unggulannya Happy Bus 2025 kembali menghadirkan pengalaman transformatif dengan mengusung tema pendidikan dan budaya. Program ini berfokus pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) No. 4.7, yakni memastikan bahwa anak-anak di daerah dengan akses terbatas memiliki kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman mengenai budaya serta potensi yang dimiliki.
Program ini bertujuan untuk memberikan dampak kepada anak di daerah yang terbelakang dengan membuka akses terhadap pengetahuan lebih lanjut tentang kultur serta budaya yang dimiliki untuk membuka potensi yang ada dan dapat dijadikan sumber daya yang bermanfaat nantinya.
Program ini melibatkan exchange participants dari enam negara, yakni China, Sri Lanka, Maroko, Aljazair, Spanyol, dan Vietnam serta didampingi oleh Local Volunteers dari berbagai universitas di Indonesia, seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, POLINEMA, UIN Malang, Kampus ASIA, hingga ITS.
Selain itu, pihak sekolah seperti MAN 2 Kota Malang, PPAI Darun Najah, dan PKBM Merah Putih turut menjadi mitra penting sebagai opportunity taker yang membuka ruang kontribusi bagi para peserta.
Program dipersiapkan sejak Februari 2025 selama lima bulan dan direalisasikan pada Juni hingga Agustus 2025. Selama delapan minggu, kegiatan berlangsung di berbagai titik di Malang Raya, termasuk Kota Malang, Kota Batu, dan Karangploso.

Kegiatan Happy Bus 2025 berlangsung dalam suasana penuh semangat, diwarnai dengan pertukaran budaya, pembelajaran bersama, dan adaptasi lintas negara. Para Local Volunteer turut merasakan pengalaman intensif yang berkesan.
“Saya sama sekali tidak menyesal bergabung menjadi Local Volunteer AIESEC Summer Peak 2025. Walaupun awalnya sempat culture shock karena beban kerja cukup berat, namun lama-kelamaan saya sangat menikmati. Saya belajar banyak hal, terutama bagaimana beradaptasi, meningkatkan public speaking, serta bekerja sama dengan berbagai latar belakang,” ujar Dea Fahira, salah satu Local Volunteer Happy Bus 2025.
Hal senada juga disampaikan Fransisca Gisella, Local Volunteer lainnya.
“Jujur pengalaman ini darderdor, banyak banget yang dilakukan selama enam minggu, exhausted but worth it. Selain bisa improve bahasa Inggris karena komunikasi setiap hari dengan exchange participants, soft skill seperti problem solving, leadership, dan critical thinking juga ikut berkembang. Proyek ini juga seru karena bisa eksplorasi banyak tempat di Malang yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi. Para OCs (panitia pelaksana) dari AIESEC juga sangat membantu, beyond thankful karena itu,” ungkapnya.
Program Happy Bus 2025 tidak hanya memberikan manfaat bagi anak-anak di sekolah mitra, tetapi juga menciptakan ruang pembelajaran bagi para relawan. Anak-anak di daerah terbelakang memperoleh akses pengetahuan baru seputar budaya dan pendidikan, sementara para peserta merasakan pengalaman kolaborasi internasional serta pengembangan diri yang signifikan.
Happy Bus 2025 membuktikan bahwa perubahan kecil yang konsisten dapat membawa dampak besar. Melalui interaksi lintas budaya, para panitia berharap anak-anak semakin percaya diri dengan potensi yang dimiliki, sekaligus relawan dan peserta memperoleh pengalaman hidup yang tidak ternilai. (*)
Ditulis oleh: Miftah Farid
