Cianjur Trauma Gempa, DMGP Pastikan Proyek Geothermal Ramah Lingkungan

Avatar of Redaksi
cianjur
DMGP Pastikan Proyek Geothermal Ramah Lingkungan, Warga: Trauma Gempa 2022 Cianjur Belum Hilang. (Sumber:Hasan/Kabarterdepan.com)

Cianjur, Kabarterdepan.com – PT Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP) memastikan proyek pengembangan panas bumi (geothermal) di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, aman dan tidak berdampak terhadap lingkungan. Perusahaan menyebut potensi energi panas bumi di wilayah tersebut mencapai sekitar 125 megawatt (MW).

Area eksplorasi awal disebut mencakup sekitar 11 hektare atau setara 0,02 persen dari kawasan konservasi di kaki Gunung Gede Pangrango, Cianjur.

Head of Corporate Communications PT DMGP, Marissa Anugrah, menegaskan pengembangan proyek panas bumi dilakukan berbasis kajian ilmiah dan mematuhi seluruh ketentuan regulasi yang berlaku.

“DMGP memastikan seluruh tahapan operasional berjalan dengan mengutamakan aspek keselamatan serta perlindungan ekosistem lokal,” ujar Marissa, Kamis (12/2/2026).

Ia menjelaskan, proyek tersebut telah menempuh proses perizinan sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomor 2778 K/30/MEM/2014. Selain itu, perusahaan mengklaim telah melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Seluruh tahapan perizinan telah diselesaikan dan komunikasi dengan pemerintah desa, BPD, serta tokoh masyarakat dilakukan secara bertahap selama tiga tahun terakhir,” katanya.

Warga Trauma Gempa Cianjur

Sementara itu, Pakar Vulkanologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Nana Sulaksana, menjelaskan bahwa pengambilan uap panas bumi dilakukan dari kedalaman ribuan meter di bawah permukaan tanah. Menurutnya, sumber panas bumi terpisah dari air tanah dangkal yang digunakan warga karena adanya lapisan batuan kedap air.

Ia menambahkan, pengembangan energi panas bumi merupakan bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional menuju energi baru terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

“Pengembangan panas bumi menjadi bagian dari dukungan terhadap transisi energi nasional menuju energi baru terbarukan yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Namun di sisi lain, penolakan datang dari sebagian warga. Loay (37), warga Cipanas, mengaku masih menyimpan trauma mendalam akibat gempa bumi Cianjur 2022 yang meluluhlantakkan kawasan kaki gunung.

“Mereka bilang ramah lingkungan karena ada kepentingan dan tidak merasakan trauma saat gempa 2022 di Cianjur,” kata Loay, Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, luka batin masyarakat belum sepenuhnya pulih. Banyak warga kehilangan anggota keluarga maupun harta benda dalam peristiwa tersebut.

“Trauma yang dialami warga Cianjur itu bukan main. Kehilangan keluarga hingga harta benda. Apakah geothermal ini bisa menjamin? Proyek besar risikonya pun besar. Saya harap pemerintah bisa lebih mementingkan keamanan dan kenyamanan masyarakat terlebih dahulu,” pungkasnya. (Hasan)

Editor: Ririn W

Responsive Images

You cannot copy content of this page