Cek Kesehatan Fisik Warnai MPLS Sekolah Rakyat di Sleman

Avatar of Redaksi
IMG 20250714 WA0148
Pemeriksaan kesehatan para siswa Sekolah Rakyat (SR) SMA 20 Sleman, Senin (14/7/2025). (Hadid Husaini for Kabarterdepan.com)

Sleman, kabarterdepan.com – Sekolah Rakyat (SR) SMA 20 BBPPKS di Sleman resmi memulai kegiatannya pada Senin (14/7/2025). Total 75 siswa yang terdaftar mengikuti program tersebut.

Adapun jumlah tersebut terdiri dari siswa laki-laki sebanyak 48 dan perempuan sebanyak 27. Mereka diantar oleh orang tua masing-masing sejak pagi. Para orangtua juga membawa sejumlah berkas-berkas yang diminta oleh panitia.

Hari pertama, dilakukan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dilakukan dengan skrining kesehatan mulai dari pemeriksaan tensi hingga tes lari sepanjang 1,6 kilometer.

Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan dan jasmani para siswa yang kedepan akan menjalani masa pembelajaran.

Kepala SR SMA 20 Sleman Reti Sudarsih menyampaikan para siswa-siswi diberikan wawasan kebangsaan dan dikenalkan dengan lingkungan sekolah.

Yeti menyebut para siswa juga dibentuk kedisiplinanya dengan dibatu personil TNI dan Pemerintah Kapanewon.

“Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan, para siswa juga dikenalkan kondisi sekolah baik di dalam asrama maupun diluar lingkungan sekolah,” katanya  Senin (14/7/2025).

Dari seluruh siswa nantinya akan terbagi menjadi 3 rombongan belajar (rombel). Untuk kebutuhan harian disebutnya juga telah tercukupi. Untuk para guru disiapkan sebanyak 17 orang.

“Kesiapan dari guru Alhamdulillah disini mendapatkan 17 guru termasuk guru agama sudah tercukupi. Untuk wali asuh ada 14, wali asrama ada 2, Tenaga didik 3,” katanya.

Sebagai sekolah dengan konsep boarding school, ia menyebut tantangan yang dihadapi adalah membuat siswa merasa nyaman karena harus berjauhan dengan orangtua.

“Tantangan mungkin karena ini boarding school dan anak anak tinggal di sini, bagaimanan ke depan meyakinakan mereka untuk bisa betah dan menganggap kami keluarga seperti mereka,” katanya.

Salah satu siswa SR, Suhadi Qomar menyampaikan perasaan usai menjadi siswa. Siswa asal Kapanewon Panggang, Gunungkidul tersebut menyampaikan tidak memiliki persiapan khusus.

Kendati begitu ia merasa semangat dengan kesempatan yang diberikan. “Yang penting semangat,”ujarnya saat diwawancarai kabarterdepan.com.

Suhadi mendaftar sebagai siswa SR karena tergolong dalam keluarga kurang mampu Program Keluarga Harapan (PKH) dari Dinas Sosial. “Kemarin dapat dari PKH, didatangi ditawari mau Sekolah Rakyat apa enggak,” katanya.

Ia menyampaikan sempat bingung untuk memutuskan, bahkan tak mau melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, namun keputusan tersebut berubah. “Waktu ada Sekolah Rakyat saya pertimbangkan lagi,”katanya.

Salah satu orangtua siswa asal Sambirejo, Prambanan, Sleman, Yanti dalam hari pertama tersebut nampak menunggu pembekalan yang dilakukan oleh panitia sejak pagi hari.

Ia membawa membawa tas besar yang berisi pakaian yang akan digunakan selama berada di asrama BBPPKS tersebut. Yanti merasa senang dengan kesempatan yang diberikan kepada putrinya.

“Saya senang sekali, karena kondisi kami memang membutuhkan (Sekolah Rakyat) sehingga anak buat untuk kuliah dan meraih cita-cita yang tinggi,” katanya.

Pendidikan baginya merupakan hal yang penting. Oleh sebab itu ia terus mendorong putrinya untuk bisa tetap sekolah, meskipun memiliki keterbatasan ekonomi.

“Dikatakan berat ya iya, tapi dibilang nggak berat ya enggak juga. Sebelumya anak saya sekolah di SMP Negeri, tapi sekarang ada komite itu kan memungut biaya ini itu, meskipun gratis tapi tetep keluar biaya” katanya.

“Kalau ini memang 100 persen full dari pemerintah, baik biaya yang kecil sampai besar,” katanya. SR diharapkan olehnya menjadi bekal agar harapan anaknya bisa terwujud. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page