Cegah Risiko Depresi Hingga Bunuh Diri Penderita Epilepsi, Begini Kata Dinkes Grobogan

Avatar of Redaksi
Kantor Dinkes Kabupaten Grobogan. (Masrikin/kabarterdepan.com)
Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan. (Masrikin/kabarterdepan.com)

Grobogan, kabarterdepan.com –
Epilesi bukanlah penyakit yang menular, apalagi penyakit gangguan jiwa. Epilepsi terjadi saat adanya kerusakan jaringan pada otak seperti gangguan pada syaraf pusat.

Epilepsi menyebabkan resiko kejang berulang, penanganannya bisa diobati dengan minum obat anti kejang. Pada penderita penyakit epilepsi menahun sering timbul perasaan depresi pada yang bersangkutan, harus di obati secara menahun. Bahaya bila penderita epilepsi kejang di lokasi yang berbahaya.

“Sementara pemicu kekambuhan bisa jadi dari beberapa faktor, seperti pengidap baru stres, kecapean, atau sesuatu yang lain menyebabkan pikirannya capek dapat kambuh lagi,” Hal tersebut diungkapkan Subandi, Sub koordinator penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan, Rabu (3/7/2024)

Dinkes Grobogan mencatatkan saat ini terdapat 92 warga mengidap penyakit epilepsi dari 30 puskesmas yang ada di Kabupaten Grobogan. Ada sejumlah 58 dari laki-laki dan 34 dari perempuan pengidap penyakit epilepsi.

“Dari data itu, ada 11 pengidap baru dari laki-laki dan 5 dari perempuan,” ungkapnya.

Dikatakan, pengidap penyakit epilepsi saat ini hanya harus dapat melakukan rutinitas kontrol dengan pendampingan keluarga secara intensif guna meminimalisir kejadian yang beresiko tinggi.

Menurutnya, Penyakit epilepsi merupakan kasuistis sehingga kekambuhan tidak dapat diprediksi, selain itu setiap penderita memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Namun upaya kontrol dan pengobatan rutin dapat meminimalisir kekambuhan yang terjadi

“Kalau pengidap penyakit epilepsi rutin kontrol, sangat dimungkinkan kekambuhan tidak kembali terjadi,” katanya.

Upaya kontrol rutin itu, menurut Subandi salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pengidap epilepsi, sehingga tidak mudah kambuh. Terlebih, bila pengidap jauh dari kontrol atau pendampingan keluarga.

“Obat-obat itu dapat menstabilkan kerusakan jaringan otak yang mengakibatkan epilepsi. Sehingga, saraf-saraf yang rusak dapat distabilkan melalui upaya rutin konsumsi obat,” tambahnya.

Dikatakan, epilepsi bisa sembuh melalui operasi. Namun, hal itu masih sangat sulit. Selain itu SDM atau dokter spesialis epilepsi sangat minim untuk saat ini.

Sementara itu, saat ditanya terkait pengidap kasus epilepsi yang berujung depresi sehingga memutuskan untuk bunuh diri pihaknya menuturkan hanya baru tahu satu kasus bunuh diri yang diduga karena mengidap epilepsi.

“Untuk kasus bunuh diri diduga karena epilepsi baru yang kemarin di Wirosari. selain itu, belum pernah ada, kemungkinan juga dari faktor lain seperti ekonomi ataupun masalah keluarga,” katanya

Dijelaskan, meskipun sangat minim kasus bunuh diri disebakan epilepsi, namun sangat memungkinkan pengidap epilepsi bisa depresi berat.

“Dengan upaya pendampingan keluarga untuk memberi semangat dan kontrol obat sangat membantu pengidap epilepsi untuk melanjutkan kehidupan,” jelasnya.

Menurutnya mental pengidap epilepsi sangat rentan. Terlebih vonis penyakit epilepsi tidak dapat disembuhkan melainkan hanya meringankan atau meminimalisir kambuhnya penyakit tersebut.

“Bila pengidap epilepsi mentalnya kuat, serta menyadari penyakit yang terjadi dan mau untuk rutin kontrol itu sangat baik sehingga tidak mengakibatkan sebuah masalah,” tuturnya.

Ditambahkan, sangat dikhawatirkan, bila seorang pengidap penyakit epilepsi memiliki mental yang tidak kuat serta tidak memiliki dorongan semangat dari keluarga sekitar.

“Hal itu sangat dapat mengakibatkan pengidap penyakit itu sering kambuh dan terjadi stres berat yang mengakibatkan penderita putus asa,” tandasnya.

Sebelumnya, publik di Grobogan sempat digemparkan adanya peristiwa ditemukannya mayat seorang pemuda dengan luka dileher, Selasa (2/7/2024) lalu, diketahui korban bernama Wisnu Candra Aditya (23) warga Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan, berdasarkan informasi yang pihak kepolisian dan warga setempat, disebutkan, korban mempunyai riwayat penyakit epilepsi yang tak kunjung sembuh. (Masrikin).

Responsive Images

You cannot copy content of this page