
Nasional, Kabarterdepan.com – Tragedi banjir bandang dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera, dengan dampak kerusakan masif dan jatuhnya korban jiwa, kembali menyalakan alarm darurat nasional mengenai kesiapsiagaan bencana.Â
Intensitas hujan ekstrem yang dipadukan dengan degradasi lingkungan dan anomali iklim telah menunjukkan betapa rentannya kawasan Indonesia terhadap bencana hidrometeorologi.
Pemahaman mengenai cara pencegahan banjir bandang sangat dibutuhkan oleh masyarakat agar bencana banjir bandang tidak terulang lagu.
Penulisan ini bertujuan memberikan rekomendasi kebijakan yang terintegrasi, mencakup aspek struktural dan non-struktural, demi membangun ketahanan wilayah yang berkelanjutan.
Mengurai Akar Masalah: Mengapa Sumatera Rentan?
Sebelum merumuskan langkah mengenai cara pencegahan banjir bandang, penting untuk memahami faktor penyebab banjir bandang. Para pakar meteorologi dan geologi sepakat bahwa bencana ini adalah hasil persimpangan tiga faktor utama:
-
Faktor Meteorologis: Curah hujan ekstrem (mencapai 150-300 milimeter) yang berada pada periode puncak musim hujan, sering kali diperkuat oleh fenomena atmosfer skala meso seperti sirkulasi siklonik.
-
Faktor Geologis dan Topografis: Wilayah hulu di Sumatera didominasi oleh topografi yang curam hingga sangat curam, dengan lapisan litologi yang lapuk dan mudah tererosi, mempercepat limpasan permukaan air.
-
Faktor Antropogenik (Kerusakan Lingkungan): Ini adalah biang keladi yang memperparah dampak. Deforestasi di kawasan hulu akibat pembalakan liar atau alih fungsi lahan menjadi pertanian/perkebunan mengurangi daya serap tanah secara drastis. Selain itu, penyempitan lebar sungai akibat pembangunan di sempadan sungai dan aktivitas pertambangan ilegal turut mengurangi kapasitas tampung sungai secara masif.
Ketika daya dukung lingkungan di kawasan daerah aliran sungai (DAS) hulu telah rusak, air hujan akan mengalir cepat ke hilir, membawa material berat (sedimen, batu, dan kayu gelondongan) yang memicu karakteristik destruktif dari banjir bandang.
Strategi Cara Pencegahan Banjir Bandang
Cara pencegahan banjir bandang berupa bencana hidrometeorologi harus dilakukan secara terpadu melalui dua pendekatan utama: Mitigasi Struktural dan Mitigasi Non-Struktural.
I. Mitigasi Struktural (Pembangunan Fisik)
Mitigasi struktural berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik untuk mengendalikan, menampung, dan mengalirkan debit air secara aman.
-
Rehabilitasi dan Normalisasi Sungai: Melakukan pengerukan dan pelebaran alur sungai (normalisasi) yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan erosi. Selain itu, perkuatan tebing sungai dengan pembangunan tanggul semen/beton di sepanjang sempadan sungai yang kritis perlu diintensifkan, khususnya di area perkotaan padat.
-
Pembangunan Infrastruktur Penampung Air: Pembangunan Kolam Retensi Banjir (Flood Retention Ponds) di dataran rendah dan Waduk Retensi yang berfungsi menampung air limpasan sementara saat curah hujan tinggi, kemudian melepaskannya secara bertahap. Di kawasan hulu, pembangunan Dam Penahan (Check Dam) dan Gully Plug harus diprioritaskan untuk mengendalikan erosi dan menahan laju sedimen.
-
Pengembangan Sistem Drainase Perkotaan: Perluasan dan pemeliharaan jaringan drainase perkotaan agar mampu menampung debit air permukaan yang besar. Program pembuatan Lubang Biopori secara masif di area perumahan dan perkotaan sangat disarankan untuk meningkatkan daya serapan air ke dalam tanah.
II. Mitigasi Non-Struktural (Kebijakan dan Edukasi)
Mitigasi non-struktural melibatkan langkah-langkah kelembagaan, regulasi, dan peningkatan kesadaran masyarakat. Inilah cara pencegahan banjir bandang yang paling esensial dan harus menjadi fondasi tata kelola lingkungan.
-
Konservasi DAS Hulu yang Mutlak: Pemerintah harus mengambil langkah tegas untuk menghentikan seluruh aktivitas penebangan liar dan mengendalikan alih fungsi lahan di kawasan konservasi. Program rehabilitasi vegetasi (reboisasi) di perbukitan yang gundul di seluruh DAS Sumatera harus diaktifkan kembali. Konsep tebang tanam atau tebang pilih harus diterapkan secara disiplin. Perlindungan kawasan resapan air alami seperti hutan dan rawa adalah kunci.
-
Penataan Ruang Berbasis Bencana (Regulasi dan Izin): Merevisi dan mengimplementasikan secara ketat Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang melarang pembangunan permanen di wilayah sempadan sungai (garis batas sungai) dan di area yang berfungsi sebagai tangkapan air alami. Pemerintah Daerah tidak boleh lagi mengeluarkan izin mendirikan bangunan (IMB) di zona-zona risiko tinggi banjir.
-
Penguatan Sistem Peringatan Dini (EWS): Pembangunan dan pemeliharaan Sistem Peringatan Dini Banjir yang modern dan akurat, mencakup pemasangan Automatic Water Level Recorder (AWLR) di hulu sungai. Sistem ini harus terintegrasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan mampu mengirimkan notifikasi cepat dan akurat ke masyarakat di daerah terdampak.
-
Literasi dan Edukasi Publik: Pembentukan dan penguatan Kelompok Siaga Bencana (KSB) di tingkat komunitas (desa/kelurahan). Edukasi publik harus secara berkala dilakukan mengenai bahaya banjir bandang, langkah evakuasi mandiri, dan pentingnya menjaga kebersihan saluran air agar tidak ada sampah yang menyumbat drainase. Masyarakat harus berhenti membuang sampah sembarangan di sungai.
Musibah yang terjadi di Sumatera adalah pengingat bahwa biaya pencegahan selalu jauh lebih kecil dibandingkan biaya pemulihan pascabencana.
Untuk mencapai ROAS (Return on Asset Spend) yang positif di sektor kebencanaan, investasi harus dialihkan dari respons darurat ke mitigasi struktural dan non-struktural yang fundamental.Â
Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan partisipasi aktif masyarakat merupakan faktor penentu keberhasilan mitigasi banjir di masa depan.
Rujukan Data
Informasi mengenai cara pencegahan banjir bandang dalam artikel ini merujuk pada data dan analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Geologi Kementerian ESDM, analisis pakar dari perguruan tinggi (ITB), serta upaya mitigasi yang dicanangkan oleh Kementerian PUPR dan BPBD (dikutip dari berbagai sumber berita terkait penanganan banjir Sumatera).
