
Gaya Hidup, Kabarterdepan.com – Fungsi rumah dalam ajaran Islam melampaui sekadar tempat tinggal; ia adalah benteng penjaga kehormatan, pusat pendidikan, dan ruang ibadah keluarga. Konsep mendalam mengenai rumah Islami ini menjadi sorotan utama dalam nasihat yang disampaikan oleh ulama dan pendakwah ternama, KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya.
Melalui ceramahnya yang dikutip dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menegaskan bahwa desain hunian Islami bukanlah tentang kemegahan, melainkan tentang kepatuhan pada adab dan etika yang diajarkan Rasulullah SAW, khususnya dalam tata letak ruang yang berkaitan dengan privasi dan aurat.
Buya Yahya Prioritaskan Adab: Bukan Megah, Tapi Terjaga
Buya Yahya menekankan bahwa inti dari konsep rumah Islami adalah menjaga kehormatan setiap penghuni, terutama anak-anak. Hal ini diwujudkan melalui perhatian serius terhadap pemisahan ruang privat, tertutupnya kamar mandi, serta penataan ruang tamu.
“Desain rumah Islami itu bukan soal besar kecilnya bangunan. Tapi bagaimana kita menjaga kehormatan anak-anak kita, memisahkan tempat tidur mereka, dan membuat kamar mandi yang tertutup serta bisa dikunci,” tegas Buya Yahya.
Ia secara khusus mengingatkan bahwa setiap kamar mandi wajib memiliki kunci dan tertutup rapat. Membiarkan kamar mandi terbuka dapat membuka celah fitnah dan mengabaikan perlindungan aurat yang diperintahkan.
Membangun Sekat Demi Kesucian Anak
Salah satu poin penting yang disoroti Buya Yahya adalah kewajiban untuk memisahkan kamar tidur anak laki-laki dan perempuan sejak usia dini. Nabi Muhammad SAW memberikan tuntunan agar pemisahan tempat tidur dilakukan sejak anak berusia tujuh tahun.
Buya menjelaskan, mencampur anak-anak dalam satu kamar tanpa pemisah berisiko menimbulkan fitnah dan bisikan setan. Ia memberikan contoh kasus rusaknya akhlak karena ketidaksengajaan anak laki-laki melihat aurat saudara perempuannya.
“Kalau rumahnya sempit, tambahlah sedikit ruang. Bikin kamar kecil untuk anak putri atau anak putra. Jangan jadikan keterbatasan alasan untuk mencampurkan anak-anak dalam satu kamar,” tandasnya.
Selain anak-anak, kamar tidur orang tua juga harus dipisahkan dari kamar anak. Buya mengingatkan bahwa ketidaksengajaan anak menyaksikan aktivitas suami-istri berpotensi menyebabkan kerusakan mental yang serius.
Etika Tamu dan Fungsi Kamar Mandi
Dalam konteks sosial, Buya Yahya menyarankan agar desain rumah juga memperhatikan etika saat menerima tamu. Rumah yang sering dikunjungi sebaiknya memiliki ruang tamu yang terpisah dari area privat keluarga.
Lebih lanjut, ia menganjurkan agar toilet kecil atau tempat bersuci ditempatkan di dekat ruang tamu. Hal ini bertujuan agar tamu tidak perlu masuk terlalu jauh ke area dalam rumah yang berisi kamar-kamar dan ruang keluarga saat membutuhkan toilet.
“Ada orang masuk rumah cuma pura-pura. Kelihatannya ramah, tapi sebenarnya ingin tahu isi rumah kita. Maka ruang tamu dan kamar mandi sebaiknya diletakkan di depan,” jelasnya.
Prioritas Utama: Toilet dan Tempat Wudhu
Buya Yahya juga menyentil soal prioritas pembangunan di kalangan masyarakat. Ia menyayangkan banyak keluarga yang mampu membeli alat elektronik mewah, namun enggan membangun toilet atau kamar mandi yang tertutup dan layak.
“Membuat kamar mandi yang tertutup lebih utama daripada membeli alat elektronik. Itu bagian dari menjaga aurat yang sangat diperintahkan dalam Islam,” ujarnya, sambil menyemangati umat agar mendahulukan pembangunan tempat mandi yang tertutup meski sederhana.
Pesan ini juga berlaku bagi pembangunan fasilitas umum, termasuk masjid. Buya menekankan bahwa membangun tempat wudhu dan toilet yang menjaga aurat perempuan adalah prioritas utama dibandingkan dengan menghabiskan dana untuk ornamen atau kubah masjid yang megah.
Sebagai penutup, Buya Yahya memberikan optimisme bahwa niat tulus untuk membangun rumah yang layak dan Islami akan mendatangkan rezeki dari Allah.
“Rumah Islami itu bukan rumah Arab, tapi rumah yang menjaga akhlak dan adab dalam Islam,” pungkasnya. (*)
