
Blora, Kabarterdepan.com – Sebuah video berdurasi singkat yang menampilkan dugaan aksi perundungan atau bullying antar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, membuat warganet geram.
Dalam rekaman sepanjang 25 detik yang beredar di aplikasi berbayar itu, tampak seorang siswa dipukul dan diejek oleh beberapa teman sebayanya di dalam toilet sekolah. Beberapa siswa lain hanya menonton tanpa berbuat apa pun.
Peristiwa yang terjadi Jumat (7/11/2025) itu kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, membenarkan laporan adanya kasus tersebut dan menegaskan bahwa langkah tegas sudah diambil.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah dan orang tua siswa. Kasus ini akan ditangani secara serius agar tidak terulang lagi,” katanya, Sabtu (8/11/2025).
Pihak sekolah pun bergerak cepat. Para siswa yang terekam dalam video dipanggil, begitu juga dengan orang tua masing-masing. Proses mediasi digelar agar persoalan bisa diselesaikan dengan pembinaan dan tanggung jawab bersama.
Kepala sekolah menyampaikan penyesalan mendalam atas kejadian yang mencoreng nama baik sekolah.
“Kami sudah mempertemukan orang tua pelaku dan korban, serta berkoordinasi dengan Polsek, Unit PPA Polres Blora, Dinas Pendidikan, dan Dinas Sosial untuk langkah pembinaan selanjutnya. Sekolah sangat prihatin atas kejadian ini,” ujarnya.
Kapolsek Blora
Dari sisi penegakan hukum, Kapolsek Blora Kota AKP Rustam memastikan pihaknya telah menindaklanjuti laporan tersebut.
“Senin besok kami akan panggil semua yang terlibat untuk dimintai keterangan,” jelasnya.
Namun, penanganan tidak berhenti di ranah hukum. Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Blora, Luluk Kusuma Agung Ariadi, menegaskan bahwa pendampingan psikologis akan diberikan kepada korban maupun pelaku.
“Fokus kami adalah pemulihan kondisi psikologis anak dan pembinaan karakter bagi seluruh pihak yang terlibat,” tutur Luluk.
Tim pekerja sosial telah diterjunkan untuk melakukan asesmen awal dan memberikan dukungan pemulihan. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan kasus, tapi juga memperkuat nilai empati dan rasa aman di lingkungan sekolah.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak-anak. Kolaborasi antara guru, orang tua, dan pemerintah sangat dibutuhkan agar setiap anak merasa aman dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan. (Rga)
