Buka Pameran Temporer Hamong Nagari, Sri Sultan HB X: Terima Kasih Abdi Dalem

Avatar of Redaksi
IMG 20250307 WA0103
Peragaan Wastra atau pakaian dalam pembukaan pameran “Hamong Nagari” Aparatur Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat di Kagungan Dalem Pagelaran Keraton Yogyakarta, Jumat (7/3/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, kabarterdepan.com- Sebanyak 15 Wastro atau pakaian abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ditampilkan dalam pembukaan Pameran Temporer “Hamong Nagari” Aparatur Nagari Yogyakarta di Kagungan Dalem Pagelaran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Jumat (7/3/2025).

Pameran tersebut akan dibuka secara umum pada tanggal 8 Maret hingga 25 Agustus 2025.

Dalam pembukaan tersebut juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk memaknai serta meresapi nilai dharma bhakti Abdi Dalem yang telah mengabdikan diri.

Makna yang dalam tersirat di setiap tampilan wastro para aparatur nagari yang memiliki berbagai macam fungsi.

Tidak hanya sebagai pakaian, namun juga struktur sosial, pangkat, serta filosofi yang melekat dalam budaya Keraton Yogyakarta.

Acara tersebut dibuka secara langsung oleh Sri Sultan HB X dan GKR Bendara. Acara tersebut juga disaksikan oleh ratusan masyarakat yang antusias menikmati wastro dari masa ke masa dengan berbagai ragam atribut yang hingga kini masih dilestarikan oleh Keraton.

Dalam Sambutannya, Sultan menyampaikan bahwa kedaulatan Kraton Yogyakarta yang masih eksis hingga saat ini.

Sultan berterima kasih kepada para abdi dalem yang telah mengabdikan diri dan membantu dalam berbagai hal. Sejarah Keraton menurutnya tidak bisa dilepaskan atas pengabdian dari para abdi dalem.

“Aparatur nagari adalah representasi dari harmoni antara kepemimpinan dan rakyat. Mereka adalah perwujudan makna Manunggaling Kawula lan Gusti sekaligus jembatan yang menghubungkan kepemimpinan dengan pengabdian,” katanya.

Sultan menyampaikan bahwa nilai-nilai yang dimiliki oleh abdi dalem tidak hanya hidup dalam laku dan tutur, namun juga terwujud dalam berbagai bentuk rupa salah satunya adalah wastro.

Sultan menyampaikan bahwa dalam tradisi Keraton, wastro bukan hanya sekedar pakaian namun juga mencerminkan berbagai simbol.

“Ini merupakan simbol kewibawaan dan kawiryan yang mencerminkan ajining diri ono ing lathi, ajining rogo ono ing busono (harga diri seseorang ada pada ucapan, harga diri raga ada di pakaian),” katannya.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah wastro Palawija yang digunakan oleh abdi dalem yang memiliki kelainan fisik.

Carik Kawedanan Tandayekti Keraton Yogyakarta, Kanjeng Mas Tumenggung Somarto Wijoyo menyampaikan jika adanya abdi dalem Palawija sebagai inklusivitas yang sudah dilakukan dari kerajaan Jogja selama ini.

“(Wastro Abdi Dalem Palawija) berdasarkan data dan fakta yang sudah dilaksanakan di Hamengku Buwono sebelumnya. Saat ini ditonjolkan dan, ditampilkan kembali untuk mengingatkan masyarakat bahwa Kesultanan Yogyakarta memiliki perhatian terhadap masyarakat lainnya,” katanya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page