BPS Jateng Ungkap Penyebab Daya Beli Masyarakat Turun

Avatar of Redaksi
Endang Tri Wahyuningsih, Kepala BPS Jateng
Endang Tri Wahyuningsih, Kepala BPS Jateng. (Ahmad Ali/kabarterdepan.com)

Semarang, Kabarterdepan.com – Awal Agustus 2024, perekonomian nasional setidaknya dikejutkan dua hal yaitu Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menurun dan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang turut berkontraksi.

Penurunan dua indikator itu menunjukkan banyak kelas menengah bawah yang kehilangan pendapatan karena kehilangan pekerjaan.

Demikian dikemukakan Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat, Amalia Adininggar Widyasanti, Kamis (8/8/2024).

Menanggapi hal tersebut Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, deflasi dua bulan beruntun adalah sinyal jika daya beli masyarakat Indonesia tengah turun, tidak terkecuali Jateng.

“Terlebih, sejumlah indikator menunjukkan adanya tekanan pada konsumsi,” ujarnya, Jumat (9/8/2024).

Endang menegaskan, penurunan daya beli masyarakat karena kelas menengah ke bawah mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan berujung pada penghasilan yang menurun.

IMG 20240809 WA0067
Esther Sri Astuti, pengamat ekonomi Universitas Diponegoro Semarang. (Ahmad Ali/kabarterdepan.com)

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan, pernyataan BPS Pusat bahwa secara nasional deflasi terjadi dua bulan berturut-turut, tapi di banyak kota salah satunya Semarang, deflasi sudah terjadi tiga bulan berturut-turut.

“BPS Pusat maupun Jateng menyatakan penyebab utama deflasi kali ini karena penurunan daya beli, padahal faktanya justru karena pasokan yang melimpah. Contohnya, yang terjadi di Semarang dan Yogyakarta,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, jika dilihat dari berbagai data ekonomi lainnya, perlu dianalisis secara komprehensif dengan melihat indeks manufaktur dan data tabungan kelas menengah yang turun.

“Analisis saya, baik inflasi maupun deflasi adalah fenomena ekonomi yang biasa terjadi. Inflasi selama masih dalam angka satu digit bukanlah penyakit ekonomi, begitu pula dengan deflasi,” katanya.

Hal yang paling penting saat ini, tegasnya, adalah pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan agar tidak terlalu bergejolak, sehingga daya beli masyarakat tetap stabil.

Lebih jauh Esther mengatakan moderasi harga pangan menjadi faktor utama di balik deflasi kali ini.

Dalam kesempatan berbeda, Sekjen Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Jateng, Heru Budi Utoyo, menggarisbawahi bahwa lemahnya pasar tenaga kerja di Indonesia tecermin dari keputusan perusahaan untuk mengurangi jumlah staf untuk kali ketiga dalam empat bulan terakhir (PHK).

“Umumnya di Jateng, utamanya Kota Semarang,” cetusnya.

Heru mengusulkan untuk memperbaiki daya beli masyarakat, pemerintah harus memfokuskan pertumbuhan ekonomi pada sektor-sektor primer.

“Sektor primer ini pekerjanya pun banyak dari masyarakat kelas bawah. Bila sektor itu diperkuat, bisa menjadi tumpuan hidup bagi orang miskin, sehingga daya beli mereka terjaga,” tutupnya. (Ahmad)

Responsive Images

You cannot copy content of this page