BMKG Peringatkan Potensi Longsor di Ledokombo dan Daerah Lain Saat Libur Bersama

Avatar of Redaksi
577AB3A9 FD79 4FC4 98D5 2F63D1831D5E
Potret longsor (Ilustrasi/Kabarterdepan.com)

Jember, Kabarterdepan.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, menjadi salah satu lokasi rawan tanah longsor skala menengah selama musim libur bersama pada 26-30 Januari 2025.

Selain Ledokombo, daerah lain yang berstatus rawan meliputi Arjosari di Pacitan, Pujon di Malang, dan Junrejo di Kota Batu, yang dikategorikan sebagai kawasan rawan tanah longsor skala menengah hingga tinggi. Sementara itu, kawasan dengan kerawanan rendah teridentifikasi di Binakal, Bondowoso.

BMKG menyoroti pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Dalam keterangan resmi, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap kondisi lingkungan sekitar selama musim hujan intensitas tinggi.

Untuk meminimalisir risiko tanah longsor, BMKG menyarankan lima langkah antisipasi yang dapat diterapkan masyarakat dan pihak terkait:

  1. Menghindari kawasan rawan longsor saat hujan untuk mengurangi potensi terjebak di lokasi bencana.
  2. Tidak melakukan penggalian atau aktivitas lain di lereng rawan longsor yang dapat memicu pergerakan tanah.
  3. Memastikan drainase di sekitar lereng berfungsi optimal, khususnya saat tidak hujan, guna mencegah genangan air yang berisiko melemahkan struktur tanah.
  4. Mewaspadai tanda-tanda awal longsor, seperti retakan tanah, rembesan air dari lereng, atau pohon yang tiba-tiba miring. Jika tanda-tanda ini muncul, masyarakat diminta segera menghindari area tersebut dan melapor ke aparat setempat.
  5. Memperhatikan perubahan lingkungan sekitar, seperti pintu atau jendela rumah yang sulit dibuka, yang dapat menjadi indikasi pergerakan tanah di area lereng.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Widodo Julianto, menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengurangi risiko bencana. Ia mengimbau agar masyarakat bekerja sama dengan Desa Tanggap Bencana (Destana), relawan, dan muspika untuk memantau kondisi lingkungan secara berkala.

“Masyarakat juga harus dapat ikut aktif menjaga lingkungan, antara lain kebersihan, terutama saluran drainase. Jangan membangun bangunan di dekat tebing yang rawan longsor dan ikut mengelola kawasan dengan lebih bijak,” kata Widodo pada Minggu (26/1/2025).

Dengan curah hujan yang diperkirakan tinggi, evaluasi rutin dan kolaborasi berbagai pihak menjadi langkah penting untuk menghadapi potensi bencana. BMKG mengingatkan bahwa kesiapsiagaan dini dapat mengurangi dampak buruk bencana terhadap keselamatan dan infrastruktur masyarakat. (Inggrid*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page