BMKG Jateng Sebut Masyarakat Perlu Bangun Kesiapsiagaan Bencana

Avatar of Redaksi
IMG 20240904 WA0064
Sukasno, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Jateng. (Ahmad Ali/kabarterdepan.com)

Semarang, Kabarterdepan.com – Masyarakat perlu membangun kesiapsiagaan terutama dalam menghadapi bencana alam yang dapat terjadi di mana saja. Hal tersebut penting untuk merespons prediksi akan ancaman gempa megathrust, utamanya Jawa Tengah (Jateng).

Hal tersebut dikemukakan Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Jateng, Sukasno di kantornya di kawasan Jl Siliwangi Semarang, Rabu (4/9/2024).

“Karena megathrust adalah fakta tetapi bagaimana kita bisa meminimalisir risiko yang mungkin terjadi,” katanya.

Sukasno menyebut, salah satu yang terdampak prediksi ini adalah wisata pantai, termasuk kawasan pantai selatan, yang merupakan daya tarik wisata bagi pengunjung dari Jateng dan DI Yogyakarta.

Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jateng, Agung Hariyadi menyampaikan, sampai saat ini pariwisata di Provinsi Jateng masih terbilang kondusif.

Terkait adanya fenomena penurunan jumlah wisatawan di destinasi wisata Jateng, lanjutnya, bukan disebabkan isu megathrust, tetapi karena memang belum masuk suasana musim libur sekolah.

“Kami bersama BMKG Jateng telah melakukan upaya mitigasi dan BMKG Jateng juga sudah memasang sistem deteksi dini di 22 titik. Kemudian kami memiliki tiga Early Warning System (EWS) atau system peringatan dini yang dipasang antara lain di pantai selatan, dan beberapa titik di kawasan wisata pegunungan,” ujar Agung.

Sukasno menambahkan wilayah yang berpotensi gempa megathrust tidak hanya di Indonesia saja, utamanya Jateng, namun negara lain seperti Jepang juga Hawaii.

Sehingga, Sukasno mengimbau harus disikapi dengan upaya mitigasi secara berkelanjutan yang meliputi pemahaman potensi bahaya yang bisa saja melanda hingga membangun kesiapsiagaan.

“Mulai dari identifikasi jumlah wisatawan hingga alur evakuasi yang dilengkapi dengan rambu-rambu evakuasi yang jelas, utamanya di tiap-tiap penginapan atau hotel,” katanya.

Terkait gempa di wilayah DI Yogyakarta, BMKG Jateng mencatat dua kali gempa susulan yang dipicu aktivitas deformasi batuan antar lempeng (megathrust) di wilayah Samudra Hindia, Selatan Gunung Kidul, Senin (2/9/2024) malam lalu pukul 20.20 WIB.

Gempa bumi susulan itu, terang Sukasno, adalah gempa dangkal. Parameter terkini gempa berkekuatan magnitudo 5,5 dari sebelumnya terdeteksi sebesar magnitudo 5,8 pada pukul 19.57 WIB.

“Episentrum gempa bumi tersebut terletak di laut pada koordinat 8,85° LS; 110,17° BT, yang berjarak 107 kilometer arah Barat Daya Gunung Kidul,” urainya.

Analisa pemodelan BMKG Jateng mendeteksi gempa bumi tersebut, lanjutnya, berdampak dan dirasakan di daerah Sleman, Yogyakarta, Kulonprogo dan Bantul dengan skala intensitas III-IV MMI.

“Berdasarkan analisa seismologis gempa tersebut dipastikan tidak berpotensi tsunami,” ujarnya.

Meski demikian, Sukasno mengatakan masyarakat diimbau waspada seraya tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan selalu mengikuti panduan dari pemerintah daerah. (Ahmad)

Responsive Images

You cannot copy content of this page