
Sleman, kabarterdepan.com – Massa aksi dari Perkumpulan Penambang Progo Sejahtera (PPPS) di Sleman melakukan aksi demo melakukan blokade Jalan Yogyakarta-Solo buntut akibat belum adanya kesepakatan dengan Balai Besar wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), Rabu (15/10/2025).
Kesepakatan tersebut terkait rekomendasi teknis (Rekomtek) Alat Bantu Kerja (ABK) yang dihapus.
Aksi penambang pasir tersebut sempat membuat kemacetan. Sebab peserta aksi sengaja memarkir truk-truk besar di depan kantor BBWSSO.
Buka Blokade Jalan
Sejumlah massa aksi bahkan menggeser separator jalan yang sebelumnya terpasang. Namun tak lama kemudian para sopir pekerja tambang membuka jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
Korlap PPPS Umar menyampaikan para pekerja tambang merasa resah karena selama kurang lebih 7 bulan mereka tidak bisa bekerja.
Berdasarkan Rekomendasi Teknis (rekomtek) terakhir dari BBWSSO yang sebelumnya diberikan untuk alat bantu kerja dengan memanfaatkan pompa sedot untuk pertambangan diganti menggunakan cangkul.
“Rekomtek dulu tahun 2015 itu keluar, setelah mati mau diganti dengan pacul atau alat bantu sederhana. Kalau kami nambang pakai pacul gak bisa gali dalam, harus pakai sedotan,” katanya.
Pihaknya berharap agar rekomtek sebelumnya dapat dilanjutkan agar para pekerja tambang bisa kembali bekerja dan mendapatkan penghasilan.
“Tuntutan kami hanya ingin pakai alat sedot dipercepat, kalau gak ada keputusan kami menginap di BBWSSO,” katanya.
Para pekerja yang melakukan aksi juga membawa istri-istrinya sebagai bentuk keresahan perempuan atas nasib mereka.
Dari surat yang beredar, aksi massa yang datang bertujuan untuk merespon keputusan Kepala BBWSSO yang menghilangkan Alat Bantu Kerja seperti pompa mekanik atau alat sedot.
Hal tersebut menjadi ancaman bagi pekerja tambang yang tidak dapat melakukan kegiatan pertambangan rakyat.
Dalam surat tersebut juga dijelaskan bahwa kawasan pertambangan di DIY sebagian besar berada di wilayah palung. (Hadid Husaini)
