Benarkah Bawang Putih dan Timun Ampuh Atasi Kolesterol Tinggi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Avatar of Lintang
Ilustrasi bawang putih. (Freepik)
Ilustrasi bawang putih. (Freepik)

Kesehatan, Kabarterdepan.com – Tingginya kadar kolesterol dalam tubuh menjadi salah satu kekhawatiran banyak orang. Berbagai saran dan klaim pun bermunculan, mulai dari mengonsumsi bawang putih mentah hingga rajin makan timun. Namun, seberapa validkah klaim tersebut? Mari kita telusuri fakta di balik mitos yang beredar.

Kolesterol Bukan dari Makanan, Lalu dari Mana?

Masyarakat seringkali keliru menganggap kolesterol yang tinggi berasal langsung dari makanan yang dikonsumsi. Faktanya, sebagian besar kolesterol diproduksi secara alami oleh hati (liver), bukan diserap langsung dari asupan makanan.

Berbeda halnya dengan trigliserida, jenis lemak lain yang memang dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Setelah diserap, trigliserida ini kemudian diolah oleh hati menjadi berbagai jenis kolesterol, termasuk:

  • LDL (low-density lipoprotein), yang dikenal sebagai ‘kolesterol jahat’
  • HDL (high-density lipoprotein), yang dikenal sebagai ‘kolesterol baik’
  • IDL (intermediate-density lipoprotein)
  • VLDL (very low-density lipoprotein)

Penting untuk dipahami, jika kadar LDL terlalu tinggi, ia dapat menumpuk di pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Bawang Putih dan Timun: Kaya Antioksidan, Tapi…

Spesialis penyakit dalam dari Mayapada Hospital, dr. Roy Panusunan Sibarani, SpPD-KEMD., FES., mengungkapkan bahwa makanan seperti bawang putih dan timun memang mengandung antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan. Antioksidan ini dikenal dapat membantu melawan radikal bebas dan menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Namun, dr. Roy menegaskan bahwa hingga saat ini, belum ada penelitian ilmiah yang secara spesifik menentukan dosis atau jumlah konsumsi bawang putih dan timun yang efektif untuk secara langsung menurunkan kadar kolesterol. Kebutuhan antioksidan setiap individu pun bervariasi, tergantung pada kondisi tubuh dan faktor genetik.

“Antioksidannya ada. Tapi jumlah yang kita perlukan itu secara saintifik belum ada yang pas. Apakah orang Indonesia sama dengan orang China? Apakah orang Indonesia sama dengan orang Eropa? Nggak ada,” jelas dr. Roy.

Studi Ilmiah di Indonesia Masih Terbatas

Dr. Roy juga menyoroti minimnya penelitian di Indonesia terkait pengaruh bahan-bahan alami seperti bawang putih terhadap kadar kolesterol. Hal ini berbeda dengan negara-negara seperti China dan Eropa yang lebih sering melakukan studi komprehensif terhadap makanan sehari-hari.

“Di Eropa mereka sudah melakukan beberapa studi untuk ini juga ya. Di China juga, dia rajin banget bikin studi untuk bahan-bahan, makanan-makanan dasar setiap hari. Tapi di Indonesia kita belum. Jadi ya kami hanya mengambil beberapa dari luar negeri saja. Tapi ada, cuma dosisnya memang masih debatable, dan tiap orang beda,” terangnya.

Dengan demikian, klaim bahwa mengonsumsi bawang putih atau timun dapat secara drastis menurunkan kolesterol masih perlu ditanggapi dengan bijak. Meskipun kedua makanan ini baik untuk kesehatan, mengandalkannya sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi kolesterol tinggi mungkin tidak efektif. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page