Beda Nasib Pedagang di Teras Malioboro saat Libur Isra Mikraj dan Imlek

Avatar of Redaksi
Teras Malioboro
Suasana Teras Malioboro saat Libur Imlek dan Isra Mikraj, Senin (27/1/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Jogjakarta, Kabarterdepan.com – Libur Imlek dan Isra Mikraj membawa berkah tersendiri bagi pedagang di Teras Malioboro, Yogyakarta. Para pedagang menempati lokasi pasca direlokasi ke wilayah Ketandan dan Beskalan beberapa waktu lalu oleh pemerintah Kota Jogja dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Peningkatan Penjualan Pedagang Teras Malioboro

Kondisi yang ada di Teras Malioboro Ketandan, Ngupasan, Gondomanan, Kota Jogja, DIY. Dari beberapa pedagang yang ditemui pada Senin (27/1/2025) ada yang mengaku  mengalami peningkatan penjualan.

Namun juga ada pedagang yang merasakan penjualannya seret, meski Teras Malioboro banyak dikunjungi wisatawan.

Kepada kabarterdepan.com, beberapa pedagang mengaku mengalami kenaikan omzet penjualan, meskipun tidak signifikan. Beberapa diantaranya harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan keuntungan.

Salah satu pedagang pakaian di Teras Malioboro Ketandan lantai 1, Veronica (66) menyampaikan jika banyaknya kunjungan wisatawan berdampak pada penjualannya hingga 50 persen. dirinya dalam sehari bisa mendapatkan keuntungan mulai dari Rp400 ribu-Rp500 ribu, saat libur kali ini dirinya bisa meraup keuntungan Rp1 juta.

“Mungkin kedepannya lebih bagus tempatnya. Kalau tempatnya lebar sana (lokasi sebelumnya), tapi kalau di sini sudah permanen jadi gak pindah pindah lagi,” katanya saat diwawancarai.

Kendati begitu, Veronica menyampaikan jika dirinya harus mencari pelanggan baru yang sebelumnya melarisi dagangan.

“Apakah sudah sesuai tempatnya gimana udah peraturan pemerintah mau gimana lagu mau gak mau ya harus mau,” ujarnya.

Namun beda nasib yang dirasakan oleh pedagang yang ada di Lantai 2 Teras Malioboro. Salah satunya adalah Yayan Hariyanto. Dirinya yang berjualan pernak pernik mengaku sudah selama 3 hari jualannya sepi, meskipun banyak wisatawan yang datang.

Dirinya yang sudah 2 kali mengalami relokasi selama berjualan di Malioboro menyebut jika kondisi Teras Malioboro di lokasi Ketandan kurang representatif bagi para pedagang. Yayan menyebut jika pedagang kesulitan dan sedikit yang naik ke lantai 2 karena kondisi tangga dan akses yang sempit.

Hal tersebut menurutnya merugikan beberapa pedagang yang tidak berada di tempat yang menguntungkan.

“Jauh banget (pendapatan sebelum relokasi). karena pengunjung jadi ngumpulnya cuma di Plaza, jarang mau naik karena akses masuk gak kelihatan, dan kecil gak kelihatan,” ujarnya.

“Baru laku Rp90 ribu sejak 3 hari ini, baru laku ini,” imbuhnya.

Ia menyayangkan jika lift yang ada di Teras Malioboro yang memakan tempat yang seharusnya bisa digunakan untuk pedagang bisa berjualan.

“Kadang ada hal yang perlu ditata lagi, Seperti lift 2 lantai menurut saya nggak perlu, karena bisa dipakai untuk hal lain,” pungkasnya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page