Gunakan Pewarna Alami, Batik Karya Warga Jombang Ini Diminati Pasar Internasional

Avatar of Redaksi
jombang
Para pekerja saat membatik di rumah produksi milik Nusa Amin, Desa Mojotrisno, Mojoagung, Jombang. (Karimatul Maslahah/Kabarterdepan.com)

Jombang, Kabarterdepan.com – Produk ekonomi kreatif asal Jombang kembali unjuk gigi di kancah internasional, rumah produksi batik di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung yang konsisten menggunakan pewarna alami, sukses mengekspor karyanya ke Singapura, Hong Kong, hingga Amerika Serikat.

Meski sempat terpuruk akibat kerugian bisnis di masa lalu, sang pemilik, Nusa Amin, kini justru berhasil memberdayakan puluhan pembatik dan penenun lokal melalui motif khas seperti Mojo Wijoyo dan Naga Air.

Nusa Amin, nampak telaten mengawasi proses tersebut. Baginya, penggunaan pewarna alami bukan sekadar tren, melainkan upaya menghidupkan kembali tradisi leluhur yang mulai luntur.

“Teknik pewarna alam itu sebenarnya sudah ada sejak zaman kerajaan dulu. Prosesnya sederhana, kulit kayu direbus sampai warnanya keluar. Jika ingin warna muda cukup dicelup sekali, kalau ingin lebih pekat ya diulang beberapa kali,” tutur Amin saat ditemui pada Selasa (24/2/2026).

Jatuh Bangun Menembus Pasar Global

Perjalanan Amin di dunia wastra nusantara tidaklah instan. Memulai karier membatik sejak 1995 di Bali, ia sempat mencicipi pahitnya dunia bisnis.

“Pada tahun 2005, saya pernah mengirim satu kontainer batik ke Brasil, tapi waktu barang sudah sampai malah tidak dibayar sepeser pun,” jelasnya.

Kegetiran itu tak membuatnya menyerah. Ia memilih pulang ke Jombang dan mulai menekuni batik warna alam sejak 2012. Kegigihan itu berbuah manis, kini karya-karya dari Mojotrisno telah melanglang buana ke Singapura, Hong Kong, Sri Lanka, hingga Amerika Serikat.

WhatsApp Image 2026 02 24 at 10.20.18 AM 1

Mahakarya Berbasis Kearifan Lokal

“Setiap lembar kain yang keluar ada identitas sejarah Jombang. Ada tiga motif utama yang menjadi unggulan, Mojo Wijoyo, Garudea Arimbi, Naga Air (terinspirasi dari situs bersejarah di Japanan),” jelasnya.

Soal harga, Amin mematok harga yang cukup kompetitif untuk pasar warna alam. Batik cap dibanderol mulai Rp150 ribu, sementara untuk batik tulis yang memerlukan ketelitian ekstra mencapai Rp750 ribu per potong.

Saat ini, usaha yang dirintis Amin telah menjadi sandaran hidup bagi warga sekitar. Ia dibantu oleh sembilan pembatik dan 12 penenun yang setiap hari memproduksi batik, ecoprint, hingga kain tenun.

“Ciri khas kami memang konsisten memakai pewarna alam untuk semua produk. Meski alami, warnanya kuat dan tahan lama, bahkan aman meski terkena deterjen,” tambahnya.

Melalui tangan dingin Nusa Amin, Desa Mojotrisno membuktikan bahwa kearifan lokal yang dikelola dengan kreativitas mampu bersaing di pasar global sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. (Karimatul Maslahah)

Penulis: Karimatul MaslahahEditor: Lintang
Responsive Images

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page