Banjir di Prajuritkulon Kota Mojokerto, Warga Waspadai Ancaman Ular

Avatar of Redaksi
IMG 20241210 WA0095
Kondisi banjir di Kelurahan Prajuritkulon Kota Mojokerto, Selasa (10/12/2024). (Innka Cristy Natalia/kabarterdepan.com)

Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Wilayah Kelurahan Prajuritkulon, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, masih terendam banjir hingga Selasa (10/12/2024). Tingginya curah hujan beberapa hari terakhir membuat ratusan rumah warga terdampak, dengan genangan air yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Tak hanya itu, warga juga dibuat was-was dampak banjir lainnya, yakni ancaman dari ular berbisa.

Menurut Ikris, salah satu warga setempat, warga sempat menemukan beberapa ular jenis Cobra di genangan banjir. Ia mengaku bnajir juga membawa ancaman dari ular berbisa sehingga warga dituntut waspada.

“Tadi pagi ditemukan ular kobra di daerah sini, kemarin bahkan ada empat sampai lima ekor,” ujar Ikris, Selasa (10/12/2024) pagi.

Banjir di lingkungan tersebut disebabkan tingginya curah hujan sejak Jumat (6/12/2024). Intensitas hujan yang tinggi membuat debit air sungai naik dan meluap ke area sawah serta permukiman.

Banjir pertama kali terjadi pada Jumat (6/12/2024), namun kondisi terparah terjadi Selasa pagi (10/12/2024).

“Banjir ini sudah terjadi pas Jumat, tapi nggak parah, cuma sawah di sana itu seperti lautan. Baru parah banget hari ini, sekitar jam 2 pagi mulai banjir, terus bertahap makin tinggi hingga sekarang, saya bertahan di rumahnya meski genangan semakin tinggi karna menjagai,” ujar Tony, warga yang terdampak

Genangan air di Prajuritkulon bervariasi, mulai dari setinggi lutut hingga sepinggang orang dewasa. Warga mengaku aktivitas mereka lumpuh akibat banjir.

“Banjir di rumah saya itu sudah sangat parah, sepinggang. Keluarga sudah saya evakuasi ke rumah di Suratan. Pemerintah sudah memberikan bantuan makanan dan melakukan evakuasi sejak semalam, ” papar Tony.

Sementara itu, pemerintah dan relawan seperti BPBD, PU, Tagana, dan relawan lainnya terus berupaya memberikan bantuan. Evakuasi dilakukan bertahap, terutama di wilayah yang terdampak paling parah sejak Senin malam (9/12/2024).

Banjir ini sebagian besar merupakan kiriman air dari wilayah Blooto, Surodinawan, Pulorejo, dan Brangkal, yang meluber ke permukiman warga. Namun, menurut Tony, penyebab lain adalah kurangnya infrastruktur penanganan banjir di wilayah tersebut.

“Harapan kami, instansi atau pemerintah bisa membuat rumah pompa dengan kapasitas lebih besar, kalau bisa 12 hingga 20 PK. Sekarang sudah ada rumah pompa, tapi kapasitasnya terlalu kecil untuk menangani debit air setinggi ini,” jelasnya.

Pemerintah Kota Mojokerto diharapkan dapat segera memberikan solusi jangka panjang untuk mencegah banjir berulang. Hingga kini, warga masih bertahan dengan bantuan logistik dan fasilitas darurat yang disediakan. (Innka)

Responsive Images

You cannot copy content of this page