Bahaya Diabetes, Ancaman Gaya Hidup Modern yang Mengintai Gen Z

Avatar of Redaksi
IMG 20241220 WA0003
Potret podcast kabar terdepan bersama dr. Alfian (Dila)

Kesehatan, Kabarterdepan.com – Penyakit diabetes, terutama diabetes tipe 2, semakin menjadi perhatian serius dalam dunia kesehatan. Dalam episode terbaru Kabar Terdepan Podcast, dr. Alfian Chandiardy membahas bagaimana gaya hidup modern, khususnya di kalangan Gen Z, menjadi salah satu faktor utama melonjaknya kasus diabetes, Rabu (18/12/2024).

Apa Itu Diabetes?

Diabetes adalah kondisi medis yang terjadi ketika tubuh tidak mampu mengontrol kadar gula darah. Hal ini disebabkan oleh masalah pada insulin, hormon yang diproduksi pankreas untuk membantu gula masuk ke dalam jaringan tubuh dan diolah menjadi energi. Ketika insulin berkurang atau tubuh tidak responsif terhadap insulin (resistensi insulin), gula darah akan menumpuk dalam sirkulasi darah.

Akibatnya, penderita sering merasa lemas meski makan banyak, kencing lebih sering, haus terus-menerus, dan berat badan malah turun. Jika tidak segera ditangani, diabetes dapat menyebabkan kerusakan organ seperti ginjal, hati, dan pembuluh darah.

Tipe Diabetes dan Faktor Pemicu

Ada tiga tipe utama diabetes:

1. Tipe 1: Kondisi autoimun yang membuat pankreas tidak dapat memproduksi insulin. Biasanya terjadi sejak usia muda dan memerlukan suntikan insulin seumur hidup.

2. Tipe 2: Berkaitan dengan gaya hidup yang kurang sehat, seperti pola makan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, dan obesitas.

3. Diabetes Gestasional: Terjadi selama kehamilan dan biasanya hilang setelah melahirkan, tetapi meningkatkan risiko diabetes tipe 2 di masa depan.

Menurut dr. Alfian, diabetes tipe 2 adalah jenis yang paling umum dan terus meningkat. Data Kementerian Kesehatan 2023 mencatat ada 19,5 juta penderita diabetes di Indonesia, dengan angka global mencapai 535 juta.

Gen Z dan Ancaman Diabetes

Gaya hidup generasi muda, terutama Gen Z, berkontribusi signifikan terhadap lonjakan diabetes. Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, minuman manis, serta aktivitas fisik yang minim memperburuk risiko. Misalnya, popularitas jajanan viral dan tren makanan manis yang sering diulas influencer sering kali membuat kaum muda abai terhadap kandungan gula yang tinggi.

“Makannya banyak fast food, banyak junk food, banyak ultra processed food, minuman kemasan, lama-lama, tepung-tepungan juga ya, roti, kue, lama-lama, wah ini kecapean nih organ-organnya,” ujar dr. Alfian.

Banyak generasi muda mudah tergiur dengan jajanan viral yang kerap menawarkan promo seperti “beli satu gratis satu.” Kebiasaan mengejar tren ini, bahkan hingga rela antre panjang atau menempuh jarak jauh demi konten media sosial, dapat berisiko terhadap kesehatan, terutama jika makanan tersebut tinggi gula atau tidak sehat.

“Jadi jangan FOMO jajanan-jajanan viral apalagi kalau udah diiming-imingin promo opening beli satu gratis satu itu, jangan hampang tergiur sampai dibelain antri panjang,” lanjut dr. Alfian.

Gaya hidup sehat yang sebelumnya banyak diterapkan, kini bergeser menjadi gaya hidup tidak sehat akibat pengaruh pola makan kebarat-baratan atau westernized diet. Pola makan ini ditandai dengan konsumsi makanan tinggi gula, lemak, makanan cepat saji, dan produk olahan beku, menggantikan menu tradisional yang kaya sayur, buah, dan bahan alami.

“Tadinya banyak sayur, tadinya banyak buah, tadinya serba makanan natural, banyak dari tumbuhan. Sekarang kebaratan-kebaratan, banyak manis, banyak lemak, banyak fast food, banyak frozen food, dan sejenisnya,” jelas dr. Alfian.

Selain itu, kebanyakan orang telah menggunakan pemanis buatan karena dianggap sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan gula pasir. Namun, dr. Alfian tetap tidak menganjurkan penggunaannya. Menurutnya, meskipun ada pemanis buatan yang dianggap aman, bahan dasar seperti gula pasir tetap lebih baik jika dikonsumsi dalam batas wajar

“Persoalannya tubuh mempersepsikan manis, Dopaminnya itu terangsang, tubuh itu mempersepsikan ada gula masuk. Nah, tetap keluar juga Insulin,” ungkap dr. Alfian.

Perubahan Pola Hidup

Untuk mencegah diabetes, perubahan gaya hidup menjadi kunci:

1. Pola Makan Sehat: Perbanyak sayur, buah, dan makanan alami. Hindari makanan olahan, minuman manis, serta makanan tinggi karbohidrat sederhana seperti roti dan kue.

2. Aktivitas Fisik: Kurangi waktu rebahan dan screen time. Tingkatkan olahraga ringan seperti berjalan kaki atau bersepeda.

3. Pantau Gula Darah: Terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga penderita diabetes.

Waspada Sejak Dini

Diabetes adalah ancaman nyata akibat gaya hidup modern. Namun, dengan menjaga pola makan sehat, rutin beraktivitas fisik, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan sejak dini, risiko diabetes dapat ditekan. Penting untuk memulai pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan penyakit.

“Kita mulai dengan gaya hidup, selalu awali dengan gaya hidup yang sehat, selalu dengan diet-diet tradisional, selalu dengan olah raga, tidur cukup, manajemen stres, itu yang paling penting. Kalau itu semua kita sudah langsungkan dengan baik, berbagai penyakit bisa kita hindari,” pesan dr. Alfian. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page