
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Ayah Diplomat Muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan muncul ke publik bersama dengan beberapa kuasa hukum pada Sabtu (23/8/2025).
Sudaryono saat bertemu dengan awak media di sebuah Kafe di Prenggan, Kotagede, Kota Yogyakarta menceritakan bagaimana terpukulnya keluarga setelah anak tunggalnya pergi dalam kondisi tidak wajar pada 8 Juli 2025 lalu.
Ia menyampaikan bahwa sosok Daru merupakan anugerah yang dinanti oleh keluarga setelah berbagai pengorbanan yang dilakukan.
“Daru adalah anak yang kami tunggu-tunggu, setelah istri saya 3 kali gagal melahirkan karena mengalami keguguran,” katanya saat jumpa pers.
Subaryono yang mantan dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan Bahwa Daru tumbuh di lingkungan dosen di sebuah kawasan Seturan, Sleman.
Sudaryono sempat membawa Daru ke Kanada saat menempuh pendidikan program master. Hal tersebut membuat anak semata wayangnya tersebut mengenal budaya disiplin yang terbangun di luar negeri.
Setelah menyelesaikan gelar Master, Subaryono membawa Daru pulang ke Indonesia. Kondisi yang berbeda dengan Kanada sempat membuat Daru tertekan.
Daru kemudian mengenyam pendidikan di SMP 8 Yogyakarta dan memilih melanjutkan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.
“Daru melawan arus dia, pilih jurusan sosial daripada IPA. Sempat mengikuti seleksi pertukaran mahasiswa se-Asean. Dirinya bergaul dengan berbagai budaya internasional,” katanya.
Daru yang memutuskan menikah dengan istrinya Meta Ayu Puspitasari pada tahun 2011 membuatnya bekerja ekstra dengan menjadi tutor Bahasa Inggris di Jakarta.
“Daru kemudian melamar loker staff di Myanmar, tapi belum diangkat menjadi ASN untuk membiayai istrinya yg sudah hamil,” katanya.
Pertemuan Daru dengan sala seorang Diplomat Kemlu bernama Sigit membuat jalan hidupnya Daru berubah setelah diangkat sebagai asisten. Tahun 2013, Daru mengikuti tes Calon Penerimaan Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan diterima sebagai ASN di Kemlu.
Daru disebutnya sempat ditugaskan di Timor Leste dan Argentina di Direktorat Perlindungan WNI. Sikapnya yang pekerja keras membuat karirnya moncer.
“Dia siap 24 jam untuk keperluan perlindungan wni. Sifat membantu kemanusiaan. Dia tidak pernah cerita hal-hak yg ada di dalam berita-berita itu,” katanya
Kerja keras anaknya membawa kegembiraan yang mendalam bagi keluarga usai Daru mendapatkan promosi jabatan dan sedianya akan dipindahkan di Finlandia. Kepindahan tersebut rencananya juga membawa anak, istri, hingga orangtuanya di Yogyakarta.
Harapan tersebut pupus, setelah Daru ditemukan tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan di sebuah kos di Gondangdia, Jakarta Pusat, pada awal Juli lalu.
Sebagai ayah, Subaryono menyampaikan selama ini mengaku mengalami kondisi tertekan, sehingga memilih untuk tidak muncul Publik. Terlebih ibu Daru saat ini tengah dalam kondisi sakit.
“Kita mencoba tetap diam. Merenung sampai kami rutin menemani istri saya secara bergantian. Daru bagi saya adalah anak yg saya sayangi. Dia juga sayang kepada orang tuanya,” katanya.
Tolak Anggapan Bunuh Diri
Kuasa Hukum 1 Keluarga Arya Daru Nicholay Aprilindo menyampaikan pihaknya menolak jika kematian Arya Daru Pangayunan akibat bunuh diri. Ia menyampaikan bahwa kondisi Arya Daru sebelum meninggal dalam suasana bahagia.
“Bagaimana seorang dalam happy mendapat promosi jabatan, orang tua dibawa, masa dia meninggalkan semua hal yang sudah dia persiapkan dengan bunuh diri? tidak masuk logika,” katanya.
Pihak keluarga disebutnya telah dimintai keterangan dari penyidik Polda Metro Jaya, Kompolnas, hingga Komnas HAM terkait kondisi Arya Daru.
“Semua sudah diberikan oleh pihak keluarga dari keterangan dari apapun yang mereka ketahui dan dapat tapi itu tidak dipertimbangkan sebagai pertimbangan pengungkapan fakta,” katanya. (Hadid Husaini)
