Atletik Kota Mojokerto Sumbang Emas, PASI Minta Lintasan Lari di Gelora A Yani Steril untuk Pembinaan Atlet

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 09 10 at 15.14.12 9efcee9d
Potret Atlet Atletik Kota Mojokerto, Mayangsari, dan Pelatih cabor Atletik, Yanuar Iskak. (Windri/Kabarterdepan.com)

Kota Mojokerto, Kabarterdepan.comKota Mojokerto kembali menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim IX 2025. Salah satu Atlet Atletik Kota Mojokerto, Mayangsari, berhasil meraih medali emas di nomor 400 meter gawang putri dengan catatan waktu 64,39 detik.

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata dari proses pembinaan panjang cabang olahraga (cabor) atletik di Kota Mojokerto.

Namun di balik prestasi tersebut, muncul kendala dalam pembinaan atlet yaitu mengenai keterbatasan fasilitas latihan di Gelora A Yani, stadion olahraga di pusat kota yang juga menjadi ruang latihan para atlet atletik.

Ketua PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) Kota Mojokerto, Siswanto, mengungkapkan bahwa pihaknya membina empat klub atletik dengan dukungan para pelatih yang tergabung di PASI.

Meski demikian, persoalan fasilitas kerap menjadi hambatan serius sebab digunakan secara bersamaan dengan masyarakat umum yang juga sedang berolahraga.

“Ada beberapa masukan dari atlet maupun dari orang tua terkait pemisahan olahraga prestasi dan olahraga rekreasi, karena di Gelora A Yani cukup menganggu ketika sedang proses berlatih. Atlet kita pernah tabrakan sama yang lagi main sepak bola. Apalagi atletik ini ada sepatunya sendiri, sepatu berpaku, jadi bahaya jika sampai terinjak atau tergores,” ujar Siswanto, Selasa (9/9/2025).

Ia menambahkan, pihaknya telah menyampaikan permintaan kepada Dispora maupun KONI agar lintasan nomor 1 dan 2 di Gelora A Yani bisa disterilkan khusus untuk pembinaan atlet.

“Kami dari cabor atletik menginginkan lintasan 1 dan 2 itu steril untuk pembinaan latihan meskipun di sana memang fasilitas publik yang yang siapapun bisa menggunakan,” sambungnya.

Tak hanya soal tempat yang tidak kondusif untuk atlet berlatih, Siswanto juga sempat menyinggung soal parkir berbayar di Gelora A Yani.

“Kalau kita latihan satu minggu lima kali, udah kelihatan uang parkirnya segitu,” ungkapnya.

Selain itu, sarana venue venue olahraga lainnya juga belum memadai, meski begitu, Siswanto memaklumi keterbatasan anggaran yang ada.

“Kami belum punya lapangan lempar cakram maupun lapangan lompat jangkit. Saya maklum karena di Kota Mojokerto ada hampir 48 cabor yang dibina KONI, jadi anggaran pasti terbagi-bagi. Tapi harapan kami, fasilitas pembinaan atletik bisa lebih diperhatikan,” lanjutnya.

Pelatih cabor atletik Kota Mojokerto, Yanuar Iskak, juga menekankan pentingnya perhatian lebih dari KONI dan pemerintah kota.

“Harapan besar saya, semoga KONI dan pemerintah kota bisa melihat lagi mana cabor-cabor yang lebih potensial, bahwasannya kita juga sebagai ujung tombak semua cabor, saya harap dari pelatih-pelatih yang ditunjuk oleh KONI bisa belajar dari cabor atletik,” katanya.

Sementara itu, sang peraih emas, Mayangsari, menegaskan bahwa prestasinya baru permulaan dari target yang lebih besar.

“Target saya selanjutnya ikut PON 2028 dan bisa juara di nomor 400 meter gawang. Kalau bisa, saya ingin meraih prestasi di tingkat internasional,” ucapnya penuh semangat. (Riris)

Responsive Images

You cannot copy content of this page