IMM Toyota - Mojokerto
Kitoshindo
Birth Beyond

Aplikasi Lokapasar Baru dari China Ancam Pelaku UMKM di Jateng

Avatar of Redaksi
aplikasi lokapasar
Eddy Sulistyo Bramiyanto, Kepala Dinas Koperasi dan UKM. provinsi Jateng. (Ahmad/kabarterdepan.com)

Semarang, Kabarterdepan.com – Sejumlah aplikasi lokapasar baru yang dapat menghubungkan langsung antara pabrik di china langsung ke konsumen Indonesia dianggap menjadi ancaman tersendiri bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), termasuk di Jawa Tengah.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Eddy Sulistyo Bramiyanto mengatakan pihaknya dalam hal ini pihaknya memiliki kiat tersendiri.

Responsive Images

“Kami sudah bekerjasama dengan pihak IT yang ada di wilayah, di mana UKM berada. Output nya kita selalu pantau. Jadi kalau di Jateng terutama, kekhawatiran itu sudah kita antisipasi,” ungkapnya Kamis (13/6/2024).

Eddy mengatakan aplikasi yang dimaksud adalah Temu dari China. Kekhawatiran itu beralasan karena Temu, menurut data Kemenkop UKM, kini sudah penetrasi ke 58 negara.

“Ada satu lagi, yang akan masuk, aplikasi digital cross-border, katanya lebih dahsyat daripada TikTok, karena ini menghubungkan factory direct dengan konsumen,” kata Eddy.

Terkait dengan antisipasi yang telah dibangun, Eddy optimistis, UKM Jateng tidak akan tergiur.

“Pasalnya, kebutuhan mereka sudah kita fasilitasi semua, sampai pada tahap dan mekanisme ekspor,” ujarnya.

Secara bertahap, saat ini sedang dibangun juga aplikasi, karya anak Indonesia, yang langsung berinteraksi antara pelaku usaha UKM dengan koordinator konsumen di Eropa dan China.

“Ini upaya kita dalam menjembatani UKM di Jateng dengan konsumen global,” katanya.

Aplikasi Lokapasar Serbu Jateng

Menyinggung aplikasi cross-border yang selain terhubung langsung dengan 80 pabrik di China dan produknya bisa langsung diterima oleh seluruh konsumen di dunia.

“Kalau ini dianggap berbahaya, jaringan internet itu kan luas dan nyaris tak terbatas. Maka Kemenkpominfo yang bisa memblokir supaya tidak masuk Indonesia,” imbuhnya.

Upaya lokal di tingkat provinsi, lanjutnya, membuat aplikasi serupa yang dilengkapi dengan fitur-fitur yang tidak melanggar aturan.

“Aplikasi cross-border ini dianggap lebih berbahaya dari TikTok Shop lantaran aplikasi tersebut tidak memiliki reseller dan afiliator,” terangnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Semarang (USM) Profesor Kesi Widjajanti pesimistis dengan upaya yang dilakukan Diskop UKM Jateng.

“Yang prinsipiil itu pengawasan, entah DPRD selaku legislatif, atau Diskop UKM yang kolaborasi dengan komunitas hacker. Kalau komunitas hacker dirangkul, saya yakin mereka akan membantu,” ujar Prof Kesi.

Yang perlu diwaspadai, lanjutnya, UKM China mampu berproduksi kecil-kecilan tapi massal. Sehingga mampu menekan biaya produksi.

“UKM kita memang mampu juga berproduksi kecil-kecilan, tapi maaf, individual, dan kompetisinya melawan kawan sendiri,” tambahnya.

Prof Kesi mengingatkan, kendati ada Permendag Nomor 31 Tahun 20231https://peraturan.bpk.go.id/Details/265202/permendag-no-31-tahun-2023#:~:text=29%20Tahun%202022.-,Permendag%20ini%20mengatur%20tentang%20Perizinan%20Berusaha%2C%20Periklanan%2C%20Pembinaan%2C%20dan,istilah%20yang%20digunakan%20dalam%20pengaturannya., tetap harus ada pembatasan.

“Misalnya cross-border tidak boleh jual produk dengan harga di bawah 100 dollar AS. Ini hanya wacana saja karena keadaan ekonomi UMKM saat ini indeks bisnisnya sedang turun,” pungkasnya. (Ahmad)

Sumber Berita :

  • 1
    https://peraturan.bpk.go.id/Details/265202/permendag-no-31-tahun-2023#:~:text=29%20Tahun%202022.-,Permendag%20ini%20mengatur%20tentang%20Perizinan%20Berusaha%2C%20Periklanan%2C%20Pembinaan%2C%20dan,istilah%20yang%20digunakan%20dalam%20pengaturannya.

Eksplorasi konten lain dari Kabar Terdepan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar