Opini  

Ambillah Uang Rakyat Secara Kreatif

Avatar of Andy Yuwono
WhatsApp Image 2024 06 06 at 8.50.13 AM
Hasyim Muhammad (Dokpri)

Oleh: Hasyim Muhammad
Sekretaris DPD Partai Nasdem Kota Mojokerto

Jika pemerintah ingin mengambil uang rakyat, harusnya berpikir kreatif. Jangan seperti pungutan Tapera yang sangat-sangat tidak kreatif.

Memahalkan cukai rokok bisa dikatakan termasuk cara yang kreatif. Sayangnya itu tidak diimbangi dengan ketatnya razia rokok non-cukai. Hasilnya jumlah perokok tetap tinggi, namun pendapatan negara menurun.

Kalau tidak bisa memastikan bahwa rokok non-cukai tidak bisa beredar, lebih baik cukai rokok tetap dimurahkan, jadi rokok resmi akan tetap murah dan orang akan memilih rokok bercukai. Perlu diketahui, perokok tetap akan memilih merek rokok yang terkenal jika harga jualnya tidak selisih banyak dengan yang ilegal. Dengan begitu, pendapatan negara pun akan lebih tinggi.

Kenapa memahalkan cukai termasuk cara kreatif untuk mengambil uang rakyat? Karena uang itu diambil dari orang yang “menyakiti” diri sendiri.

Negara itu ingin rakyatnya sehat. Ingin rakyatnya tidak merokok. Tapi, negara memberi “jalan” kepada yang ingin tetap merokok dengan bayar cukai ke pemerintah. Makin mahal makin baik.

Dengan cara berpikir seperti itu, hasilnya hanya ada 2 kemungkinan, yaitu: pendapatan negara sangat tinggi, atau rakyat Indonesia makin sehat karena jumlah perokok menurun.

Kedua kemungkinan hasilnya itu akan menguntungkan negara. Negara jadi banyak uang atau warganya sehat. Sekali lagi, dengan catatan harus ada penegakan hukum tentang rokok ilegal.

Cara apa lagi yang kreatif selain cukai rokok? Ya kita cari hal-hal lain yang rakyat suka “menyakiti” diri sendiri.

Yang saat ini sudah legal sih, baru minuman beralkohol. Namun kita bisa melegalkan beberapa hal yang sebelumnya itu ilegal. Misalnya: legalisasi perjudian, legalisasi prostitusi, legalisasi pornografi, hingga legalisasi ganja.

Prinsipnya: legalkan dan mahalkan!

Mahalkan cukai atau pajaknya hingga masyarakat yang memakai (mengonsumsi) tidak masif, namun negara mendapatkan pemasukan yang besar dari situ.

Perjudian menurut saya yang paling punya potensi mendapatkan penghasilan paling besar. Penjudi kelas teri selama ini uangnya habis ke judi online. Penjudi kelas kakap uangnya terbuang ke Singapura, Malaysia bahkan sampai AS.

Selama ini, kita masih disuguh berita orang yang bangkrut karena judi online. Bayangkan jika itu uangnya masuk ke negara.

Judi model lotre (togel) seperti SDSB atau Porkas juga layak dipertimbangkan untuk dihidupkan lagi. Negara bisa dapat uang dari orang yang suka judi seperti ini. Tak usah dipungkiri, togel ilegal masih ada di tengah masyarakat sekarang ini.

Orang bangkrut karena judi, itu hidupnya hancur kan memang “keinginannya” sendiri. Setidaknya dia sudah tahu risikonya ketika melakukan itu.

Dengan melegalkan judi, pemasukan negara pasti tinggi.

Oh ya, masih ada 1 lagi yang selama ini legal, dan bisa membuat orang sakit, namun tidak ditarik cukai. Apa itu? Gula!

Gula itu jelas membuat orang sakit. Orang juga tak mati jika tak mengonsumsi gula pasir. Anehnya, kita malah memasukkan gula dalam daftar Sembilan Bahan Pokok (sembako).

Harusnya gula itu diberi pajak sehingga harganya jauh lebih mahal. Supaya orang mengurangi konsumsi gula. Tapi kebijakan ini jangan diterapkan ke produk gula rendah kalori sehingga orang akan lebih banyak memakai gula rendah kalori supaya lebih sehat.

Konsumsi gula berlebihan termasuk dalam kategori: menyakiti diri sendiri. Harusnya dikenai cukai juga.

Jadi, intinya jika negara ingin “merampas” uang dari rakyat, ambillah uang dari orang-orang yang rela menyakiti diri mereka. Jangan malah minta 3% ke gaji karyawan berupa Tapera!

Masih banyak orang yang memang ingin menyakiti diri sendiri. Ambillah uang dari mereka. Jangan menyakiti orang yang sudah hidup baik-baik.

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini :

Naskah dikirim ke alamat email [email protected] dan memberikan keterangan OPINI di kolom subjek serta konfirmasi melalui WhatsApp +628888567788

Panjang naskah maksimal 900 kata

Sertakan identitas, foto dan nomor handphone

Hak muat redaksi

Responsive Images

You cannot copy content of this page