
Cianjur, Kabar Terdepan.com – Pemerintah resmi menetapkan alokasi pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Cianjur pada tahun anggaran 2026 sebesar 78.015 ton. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan alokasi tahun sebelumnya yang tercatat 75.658 ton, seiring peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Barat.
Korban Dugaan Keracunan MBG di Cianjur Meluas, 176 Siswa di Cikalongkulon Dirawat di Puskesmas
Jabatan Fungsional Analis Prasarana dan Sarana Pertanian Sub Koordinator Sarana Bidang PSP Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Cianjur, Agie Nurdjaman, menyampaikan bahwa pada 2026 kembali memperoleh alokasi pupuk bersubsidi jenis Urea dan NPK dengan volume yang lebih besar.
“Pada tahun ini alokasi pupuk subsidi mengalami kenaikan. Untuk pupuk Urea ditetapkan sebanyak 43.015 ton, sementara pupuk NPK mencapai 35 ribu ton. Adapun pada 2025 lalu, alokasi Urea sebanyak 41.093 ton dan NPK 34.565 ton,” ujar Agie, Rabu (28/1/2026).
Urea dan NPK Dominasi Alokasi Pupuk Bersubsidi Cianjur Tahun 2026
Ia mengungkapkan, peningkatan kuota pupuk bersubsidi tersebut didasarkan pada pertimbangan kapasitas pertanian yang masih menjadi tulang punggung produksi pangan di tingkat provinsi.
Saat ini, jumlah petani pangan di Kabupaten Cianjur tercatat mencapai 187.064 orang, dengan rencana luas tanam pada 2026 diproyeksikan mencapai 217.013 hektare.
“Penambahan kuota pupuk subsidi tidak lepas dari posisinya sebagai salah satu daerah lumbung pangan Jawa Barat, bersama Kabupaten Subang dan Karawang,” katanya.
Selain itu, Dinas TPHPKP Kabupaten Cianjur menargetkan tingkat penyerapan pupuk bersubsidi pada 2026 dapat menembus 90 persen.
“Target penyerapan tahun ini kami pasang di atas 90 persen. Mudah-mudahan bisa melampaui capaian penyerapan tahun 2025 yang berada di angka 83,11 persen,” pungkas Agie.
Pemerintah Kabupaten Cianjur menyambut positif peningkatan alokasi pupuk bersubsidi tahun 2026 tersebut. Tambahan kuota dinilai sangat krusial untuk menjaga stabilitas produksi pertanian, khususnya komoditas padi, jagung, dan hortikultura yang menjadi andalan daerah. Dengan meningkatnya kebutuhan pupuk seiring bertambahnya luas tanam, ketersediaan pupuk bersubsidi diharapkan mampu menekan biaya produksi petani serta menjaga daya beli mereka.
Distribusi pupuk bersubsidi akan tetap mengacu pada sistem Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Sistem ini digunakan untuk memastikan pupuk diterima oleh petani yang benar-benar berhak, sesuai dengan data luas lahan dan komoditas yang diusahakan. Melalui mekanisme tersebut, pemerintah berharap penyaluran pupuk subsidi dapat lebih tepat sasaran dan meminimalisir potensi penyimpangan di lapangan.
Selain peningkatan kuota, Dinas TPHPKP Cianjur juga menekankan pentingnya pengawasan distribusi pupuk hingga ke tingkat kios resmi. Petugas lapangan bersama penyuluh pertanian akan dilibatkan secara aktif untuk memantau ketersediaan pupuk, harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), serta kelancaran distribusi di setiap kecamatan. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk yang kerap terjadi saat musim tanam serentak.
Peran penyuluh pertanian sangat strategis dalam mendampingi petani, tidak hanya dalam aspek teknis budidaya, tetapi juga dalam penggunaan pupuk yang berimbang dan efisien. Penggunaan pupuk sesuai dosis anjuran akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas lahan sekaligus menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Pupuk subsidi ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Dan mengedukasi petani agar tidak berlebihan dalam penggunaan pupuk kimia dan tetap mengombinasikannya dengan pupuk organik.
Di sisi lain, peningkatan alokasi pupuk bersubsidi diharapkan mampu mendukung program ketahanan pangan nasional yang saat ini menjadi prioritas pemerintah. Kabupaten Cianjur, sebagai salah satu sentra produksi beras di Jawa Barat, memiliki peran penting dalam menjaga pasokan pangan regional maupun nasional. Dengan dukungan pupuk yang memadai, target produksi diharapkan dapat tercapai meski dihadapkan pada tantangan perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Sejumlah petani di Cianjur menyambut baik tambahan kuota pupuk bersubsidi tersebut. Mereka berharap ketersediaan pupuk di tingkat kios lebih terjamin, terutama pada awal musim tanam. Selama ini, keterlambatan distribusi pupuk kerap menjadi kendala yang memengaruhi jadwal tanam dan hasil panen.
Ke depan, Dinas TPHPKP Cianjur berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, produsen pupuk, serta distributor resmi agar pasokan pupuk bersubsidi tetap aman. Dengan sinergi berbagai pihak, pemerintah optimistis sektor pertanian Cianjur pada 2026 mampu tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut (Hasan)
