Aksi Puncak WCDI 2025: Bupati Mojokerto Serukan Komitmen Atasi Darurat Sampah Lewat ‘Resik-resik Peken’

Avatar of Lintang
Bupati Mojokerto Muhammad Albarra dalam kegiatan aksi puncak World Clean Up Day Indonesia (WCDI) Tahun 2025. (Kominfo Kab Mojokerto)
Bupati Mojokerto Muhammad Albarra dalam kegiatan aksi puncak World Clean Up Day Indonesia (WCDI) Tahun 2025. (Kominfo Kab Mojokerto)

Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Pemerintah Kabupaten Mojokerto melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sukses menggelar aksi puncak World Clean Up Day Indonesia (WCDI) Tahun 2025. Mengusung tema lokal yang khas, “Resik-Resik Peken” (Bersih-Bersih Pasar), kegiatan monumental ini dipusatkan di Pasar Raya Mojosari pada Rabu (15/10).

Aksi bersih-bersih pasar ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebuah momentum penting yang dicanangkan untuk mendukung target ambisius Indonesia Bersih 2029. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan perwujudan nyata komitmen kolektif dalam mengatasi persoalan sampah yang semakin mendesak dan menjadi perhatian global.

Bupati Mojokerto Muhammad Albarra turut hadir dan memimpin langsung gerakan kebersihan tersebut. Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi masif yang melibatkan berbagai elemen, termasuk jajaran pemerintah daerah, relawan lingkungan, pelajar, berbagai komunitas masyarakat, hingga pelaku usaha di sekitar pasar.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Albarra menunjukkan dukungan penuh Pemkab dengan menyerahkan alat bantu kebersihan secara simbolis kepada perwakilan relawan. Penyerahan ini menjadi simbol komitmen Pemkab Mojokerto terhadap gerakan kebersihan yang berkelanjutan.

WCDI 2025: Respons Terhadap Darurat Sampah Global

Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Rachmat Suharyono, dalam laporannya menjelaskan bahwa WCDI merupakan gerakan global yang rutin dilaksanakan setiap tahun dalam rentang waktu antara tanggal 15 September hingga 15 Oktober. Gerakan ini merupakan respons mendesak terhadap isu darurat sampah di seluruh dunia

“Kegiatan ini merupakan gerakan monumental yang diharapkan tidak hanya menjadi momentum tahunan, tetapi dapat berkelanjutan dan berkesinambungan. Kami berharap seluruh pihak memberi perhatian penuh terhadap kedaruratan sampah di Kabupaten Mojokerto,” ujarnya.

Rachmat juga melaporkan bahwa rangkaian kegiatan WCDI telah dimulai sejak 15 September lalu, diawali dengan aksi pembersihan di sepanjang bantaran Sungai Kalipuro. DLH juga melaksanakan kegiatan pemeliharaan jalur hijau di wilayah Mojosari hingga Pungging, serta perawatan taman-taman kota, termasuk di RTH Mojosari, RSUD R.A. Basoeni, dan RTH Sooko, yang turut diikuti oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Mojokerto.

Selain itu, DLH juga melakukan pembinaan sekolah hijau (Adiwiyata) dan berencana mengadakan pelatihan pengelolaan sampah di sekolah-sekolah dengan melibatkan Tim Penggerak PKK Kabupaten Mojokerto.

“Hari ini merupakan kegiatan puncak aksi WCDI yang kita lakukan dengan tema Resik-Resik Peken. Kami memandang bahwa aktivitas masyarakat, khususnya di sektor ekonomi, menjadi salah satu sumber sampah yang cukup besar. Khususnya di Pasar Raya Mojosari ini, setiap harinya hampir empat ton sampah kami kumpulkan dan kirim ke TPA,” jelasnya.

Rachmat menambahkan, kondisi TPA Karangdieng saat ini sudah mengkhawatirkan dengan tumpukan sampah mencapai dua meter di atas tanggul.

Menurutnya, dari 30 TPS3R yang ada, hanya kurang dari 10 yang berfungsi optimal. Hal ini menjadi tantangan besar bagi Pemkab Mojokerto untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis sumber.

“Kami yakin, dengan dibantu oleh para relawan, pegiat, dan pelaku industri yang sudah mulai sadar bahwa sampah menjadi masalah kita bersama, kegiatan hari ini bukan hanya menjadi momentum, tetapi juga harus menjadi penanaman nilai bagi seluruh masyarakat. Sehingga, masyarakat memahami bahwa sampah adalah masalah bersama. Kita membutuhkan bumi, dan bumi membutuhkan kita,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Mojokerto Muhammad Albarra dalam arahannya menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Hari ini kita melaksanakan kegiatan World Clean Up Day yang diinisiasi oleh DLH Kabupaten Mojokerto. Lokus kita pagi ini adalah pasar, karena pasar merupakan salah satu penyumbang sampah terbanyak. Di Pasar Mojosari ini saja, informasinya setiap hari hampir empat ton sampah dihasilkan,” kata bupati yang akrab disapa Gus Bupati.

Gus Bupati mengimbau masyarakat untuk memilah dan memilih sampah sejak dari rumah dengan membedakan antara sampah organik dan anorganik. Langkah sederhana ini diyakini mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

“Sampah organik bisa terurai sendiri, sedangkan sampah anorganik tidak bisa terurai. Maka, sampah yang sampai ke TPA seharusnya bukan lagi sampah mentah, melainkan residu saja. Jadi, langkah ini untuk mengurangi volume sampah yang ada di Kabupaten Mojokerto,” jelasnya.

Gus Bupati juga menegaskan bahwa pengurangan sampah tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Ia mencontohkan kegiatan edukatif yang melibatkan pelajar SMK PGRI dan SMA Negeri 1 Mojosari yang diajarkan membuat kompos dan eco-enzym dari sampah organik.

“Jadi mereka tahu nilainya, bahwa sampah ini bisa menjadi eco-enzym atau bisa menjadi kompos, sehingga sampah ini bisa dikurangi,” ungkapnya.

Kegiatan puncak World Clean Up Day Indonesia 2025 di Pasar Raya Mojosari diharapkan menjadi tonggak perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah, menuju Kabupaten Mojokerto yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page