Abu Janda: Mafia Migas Layak Dihukum Mati

Avatar of Redaksi
VideoCapture 20250227 042810
Potret Abu Janda. (@permadiaktivis2 / Kabarterdepan.com)

Jakarta, Kabarterdepan.com– Aktivis Permadi Arya atau Abu Janda kembali menanggapi isu yang ada di Indonesia. Kali ini ia menanggapi kasus korupsi yang menjerat Direktur Utama (Dirut) Pertamina Patra Niaga. Kasus tersebut menjadi sorotan setelah kejaksaan menetapkan tersangka terkait dugaan mafia migas.

Dalam video berdurasi 1 menit yang diunggah di akun Instagram @permadiaktivis2 sekitar pukul 12.00 WIB, Permadi mendapatkan berbagai reaksi dari netizen.

“Gue dari dulu sering ngomong soal Mafia Migas, tapi baru sekarang gue benar-benar ngeh gimana cara mereka main. Edan, jahat banget!” ujarnya di awal video.

Ia menyoroti dugaan praktik impor minyak yang menguntungkan kelompok tertentu. Menurutnya, produksi dalam negeri sengaja diturunkan agar mafia migas bisa mengimpor dan meraup keuntungan lebih besar.

“Bayangin aja, Dirut Pertamina yang ketangkep ini sengaja nurunin produksi minyak dalam negeri, biar geng mafia migasnya bisa impor dari luar,” jelasnya.

“Kenapa mereka lebih pilih impor? Karena lebih gampang main harga dan ngelembungin keuntungan,” tambahnya.

Permadi menyoroti bagaimana impor bahan bakar berkualitas rendah dimanfaatkan untuk meraup keuntungan besar dengan mengubahnya menjadi produk yang lebih mahal.

“Mereka beli Ron 90, yang setara Pertalite, tapi harganya udah dimark-up. Negara udah rugi di situ,” katanya.

“Jadi, kalau kamu ke pom bensin dan sering kehabisan pertalite, itu karena pertalite tersebut sudah diubah menjadi pertamax.” tambahnya.

Akibatnya, masyarakat kesulitan mendapatkan Pertalite dan terpaksa beralih ke Pertamax yang lebih mahal. Kondisi ini tidak hanya membebani rakyat kecil, tetapi juga merugikan negara, sementara mafia migas justru meraup keuntungan besar.

“Jadi, negara rugi, rakyat juga rugi. Yang untung? Ya mafia migas yang duitnya ratusan triliun tiap tahun!” tegasnya.

Di akhir videonya, Permadi mengapresiasi langkah kejaksaan yang menangkap para pelaku. Ia berharap pengadilan bisa bertindak adil tanpa terpengaruh kepentingan tertentu.

“Bravo untuk kejaksaan yang sudah menangkap mereka! Orang-orang seperti ini layak dihukum mati, Pak. Keterlaluan! Semoga hakim di pengadilan nanti nggak masuk angin, ya Pak!” tutupnya. (Steven*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page