
Surabaya, Kabarterdepan.com – Keputusan menerima atau menolak tawaran pekerjaan baru sering kali menjadi dilema, terutama jika kenaikan gaji yang ditawarkan tidak terlalu signifikan. Permasalahan ini mencuat dalam sesi konsultasi karier daring antara seorang alumni dengan Ketua Ikatan Alumni Universitas Dinamika (Undika), Dhani Aristyawan Simangunsong.
Seorang alumni Undika Angkatan 2018, yang baru saja diterima sebagai Solution Architect L2 di sebuah PT di Sidoarjo, merasa bimbang. Dengan tawaran gaji sebesar Rp6 juta, peningkatan tersebut dinilai minim dari gaji sebelumnya yang mencapai Rp5 juta.
Menanggapi dilema ini, Dhani Aristyawan Simangunsong memberikan lima poin pertimbangan krusial yang seharusnya menjadi fokus utama, bahkan jika kenaikan nominal gaji tampak kecil.
5 Faktor Penentu Selain Angka Gaji
Menurut Dhani, keputusan karier tidak boleh semata-mata didasarkan pada besaran take-home pay (THP), melainkan pada potensi jangka panjang dan value yang ditawarkan perusahaan baru. Berikut adalah rangkuman dari lima pertimbangan tersebut.
Jenjang Karier yang Jelas (Karier Path)
Dhani menekankan pentingnya transparansi dalam jenjang karier.
“Jika di tempat baru terdapat jenjang karier yang jelas, entah itu berdasarkan tahunan atau Key Performance Indicator (KPI), ambil saja. Target yang jelas merangsang kita untuk lebih fokus dan termotivasi,” ujarnya.
Skala dan Lingkup Perusahaan
Pindah ke perusahaan yang memiliki skala lebih besar, baik dari sisi cabang, cakupan operasional, atau status multinasional, adalah langkah yang patut dipertimbangkan. Skala perusahaan yang lebih besar, meskipun persaingan lebih ketat, akan memaksa seseorang menjadi lebih kompetitif dan terbiasa dengan tuntutan peningkatan kualitas diri (better & better everyday).
Biaya Operasional dan Transportasi
Perhitungan biaya transportasi dan jarak rumah-kantor sangat penting. Kenaikan gaji bisa saja terserap habis oleh kenaikan ongkos. Jika ada tambahan biaya operasional, Dhani menyarankan agar hal tersebut menjadi poin negosiasi gaji.
Fasilitas Pendukung
Fasilitas seperti asuransi kesehatan yang lebih baik, jaminan BPJS Ketenagakerjaan (BPJSTK) yang komprehensif, atau adanya transportasi pendukung, dapat menjadi penentu.
Fasilitas yang lebih baik meningkatkan kesejahteraan dan layak menjadi bobot pertimbangan.
Kesempatan Menjadi Pemimpin (Leader)
“Jika di tempat baru memungkinkan Anda untuk memimpin sebuah tim, sementara di tempat lama tidak, saran saya ambil saja,” tegas Dhani. Kesempatan memimpin tim adalah pembelajaran soft-skills yang tak ternilai dan modal berharga untuk peningkatan level karier di masa depan.

Negosiasi Gaji Solution Architect
Menariknya, kasus alumni ini menunjukkan bahwa faktor non-gaji, seperti jenjang karier yang lebih bagus dan skala perusahaan yang lebih besar, sudah terpenuhi di pekerjaan baru. Hal ini menguatkan alasan untuk mengambil tawaran tersebut.
Terkait upaya negosiasi gaji, alumni tersebut sempat mempertanyakan apakah angka Rp7 juta realistis untuk posisi Solution Architect L2 di Sidoarjo.
Dhani Aristyawan Simangunsong menyarankan agar alumni tersebut melakukan riset mendalam mengenai Gaji Solution Architect Sidoarjo.
“Coba cari-cari di platform karier seperti Glints, qerja.com, atau internet, cek juga review karyawan atau mantan pegawai perusahaan tersebut,” tutupnya.
Riset harga pasar merupakan langkah esensial dalam Negosiasi Gaji untuk memastikan angka yang diajukan tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi dari standar industri.
Pesan ini menjadi pengingat penting bagi para Alumni Universitas Dinamika lainnya dalam menghadapi tantangan karier pasca-kampus.
