
Mandailing Natal, Kabarterdepan.com — Seorang bocah berusia 7 tahun, warga Desa Huta Puli, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, bernama Rahmad, harus terlahir dengan kecacatan tubuh dan tidak memiliki anus.
Sang ibu, Siti Aminah (36), hanya bisa pasrah melihat kondisi ekonomi keluarganya dan kesehatan putra keempatnya.
Siti, yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga, tinggal bersama suaminya dan lima anak di sebuah gubuk bambu berukuran 3×3 meter. Kondisi tempat tinggal mereka sangat memprihatinkan.
Pengobatan Terhenti karena Keterbatasan Biaya
Menurut Siti Aminah, pada tahun 2018 ia bersama suaminya sempat membawa Rahmad ke salah satu rumah sakit di Medan untuk menjalani operasi. Namun, karena keterbatasan biaya, pengobatan lanjutan terpaksa dihentikan.
“Biaya hidup selama di Medan waktu berobat kami tidak sanggup, Pak. Makanya tidak dilanjutkan lagi,” ucap Siti kepada wartawan, Kamis (9/10/2025).
Ia menuturkan, suaminya bekerja sebagai buruh tani serabutan dengan penghasilan tidak menentu.
“Suami cuma buruh tani, mengharapkan upah dari mengerjakan kebun atau sawah warga. Kadang ada kerjaan, kadang tidak,” katanya.
Dari hasil kerja tersebut, suaminya hanya memperoleh upah sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
“Dari upah itulah kami cukup-cukupkan untuk kebutuhan anak-anak,” ujarnya.
Tak Lagi Terima Bantuan Sosial
Siti juga mengaku, sejak tiga tahun terakhir keluarganya sudah tidak lagi menerima bantuan sosial dari pemerintah.
“Dulu sempat dapat bantuan sosial, tapi sudah tiga tahun ini tidak lagi. Tidak tahu kenapa,” ucapnya polos.
Rahmad, yang kini berusia tujuh tahun, juga belum bisa bersekolah karena kondisi fisiknya.
“Karena kondisi tubuh dan kesehatannya, Rahmad belum sekolah,” tutur Siti.
Kini, bocah malang itu hanya bisa menahan sakit dan pasrah dengan keadaannya di tengah kesulitan ekonomi keluarga.
Siti Aminah berharap adanya perhatian dari pemerintah dan para dermawan agar Rahmad bisa menjalani operasi lanjutan sehingga dapat hidup lebih sehat dan bersekolah seperti anak-anak seusianya.
Bekas luka operasi pertama Rahmad saat ini hanya dibalut dengan kain seadanya. (Suhartono)
