
Sragen, kabarterdepan.com – Dinas Sosial (Dinsos) bersama Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) terus melakukan penjaringan calon siswa (casis) Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) di berbagai pelosok Kabupaten Sragen.
Upaya ini dilakukan secara intensif demi menjangkau anak-anak dari keluarga rentan yang belum mengakses pendidikan formal garatis tanpa dipungut biaya apapun.
Koordinator PKH Kabupaten Sragen, Cahyo Hendris Setiyawan, menjelaskan bahwa penjaringan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rombongan belajar (rombel) di jenjang SMP dan SMA yang akan dibuka melalui program Sekolah Rakyat di Sragen.
“Hingga Jumat 3 Oktober 2025 jumlah calon siswa yang telah terjaring mencapai 18 siswa jenjang SMP dan 16 siswa jenjang SMA. Angka ini masih bersifat sementara dan diperkirakan akan terus bertambah seiring berjalannya asesmen dan pendekatan lapangan,” ungkapnya. Sabtu (4/10/2025).
Menurut Cahyo, proses penjaringan tidak hanya melibatkan pendamping PKH. Sejumlah elemen masyarakat juga turut berperan aktif, seperti tokoh masyarakat, relawan pendidikan, hingga perangkat desa, yang bersinergi untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari perhatian.
“Salah satu calon siswa yang telah didaftarkan adalah Ahmad Lufi, anak dari Punijah, warga Tempelrejo, Mondokan, Sragen. Ahmad sebelumnya putus sekolah, dan kini masuk dalam daftar calon siswa jenjang SMA yang akan difasilitasi oleh Sekolah Rakyat Sragen,” tambahnya.
Cahyo juga menyampaikan bahwa Kementerian Sosial telah menugaskan sejumlah petugas kependidikan guna mendukung operasional sekolah rintisan tersebut, yang berlokasi di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) UPTD Disnaker Sragen.
Sejumlah posisi administratif dan pendukung telah terisi, seperti; Bendahara, Tata Usaha, Operator, Data Sekolah, Wali Asrama dan Wali Asuh, Satpam, Cleaning Service dan Juru Masak.
Tenaga Pengajar Sekolah Rakyat
Namun demikian, lanjut Cahyo, hingga saat ini Sekolah Rakyat Kabupaten Sragen masih mengalami kekurangan tenaga pengajar khusus untuk jenjang SMA. Hal ini menjadi perhatian serius karena keberhasilan proses pembelajaran sangat bergantung pada ketersediaan guru yang memadai.
“Upaya terus dilakukan agar semua anak, terutama yang berasal dari keluarga tidak mampu atau sempat putus sekolah, dapat kembali mengakses pendidikan berkualitas. Semua calon siswa wajib mengikuti proses asesmen dan pendekatan secara personal agar program ini benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.
