
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Pemerintah Kota Mojokerto terus memperkuat pondasi karakter dan spiritualitas generasi muda melalui program inovatif. Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari (Ning Ita), meninjau langsung pelaksanaan program “Ning Ita di Sekolah”—akronim dari Peningkatan Iman dan Takwa di Sekolah—yang digelar di SDN Balongsari 3 pada Selasa, 30 September 2025.
Program ini dihadirkan sebagai upaya serius Pemkot Mojokerto untuk meningkatkan iman, takwa, serta menanamkan akhlak dan budi pekerti luhur bagi para pelajar.
Program ‘Ning Ita di Sekolah’ Melibatkan Pendidik Agama Setempat
Dalam kunjungannya, Ning Ita menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai penguatan, bukan dimaksudkan untuk mengurangi atau menggantikan peran Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) maupun lembaga pendidikan agama di lingkungan masing-masing.
Sebaliknya, program ‘Ning Ita di Sekolah’ justru berfokus pada pelibatan dan pemberdayaan guru TPQ serta pendidik agama setempat, mengintegrasikan mereka ke dalam sistem pendidikan formal di sekolah.
“Setiap hari Selasa dan Kamis, anak-anak mendapatkan pendalaman agama sesuai keyakinannya, sekaligus belajar akhlak, budi pekerti, dan nilai-nilai karakter. Jadi ini adalah penguatan, bukan pengganti peran TPQ,” tegas Ning Ita.
Ia juga menambahkan bahwa pendidikan agama tidak boleh berhenti, tetapi harus dihidupkan dalam keseharian siswa.
“Melalui program ini, kita ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga tumbuh dengan karakter yang baik, sopan santun, dan memiliki rasa hormat kepada orang tua serta guru,” tuturnya.
Kehadiran wali kota disambut hangat para siswa. Ia pun memberikan motivasi agar anak-anak terus bersemangat menimba ilmu, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu agama.
“Masa depan Kota Mojokerto ada di tangan generasi muda. Dengan pembinaan yang seimbang antara ilmu pengetahuan dan akhlak, kita berharap lahir generasi unggul yang membawa nama baik daerah kita,” tambahnya.
Dengan program Ning Ita di Sekolah, Pemerintah Kota Mojokerto ingin memastikan pendidikan karakter dan religiusitas berjalan beriringan, serta memperkuat sinergi antara sekolah dan lingkungan. (*)
