
Hiburan, Kabarterdepan.com – Tokoh utama wanita yang memiliki kekuatan dan ketangguhan dalam drama sejarah Tiongkok atau costume drama (C-Drama) senantiasa menjadi magnet kuat bagi penonton global.
Kisah mereka yang berjuang melampaui batas sosial, politik, dan bahkan gender kian kompleks dan inspiratif dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena terbaru yang sukses menangkap semangat ini adalah serial “Legend of the Female General”.
Diadaptasi dari novel populer Qian Shan Cha Ke, ‘Rebirth of the Female General Star‘, drama sejarah Tiongkok ini menyoroti perjalanan luar biasa putri sulung keluarga He, He Yan (Zhou Ye).
Demi mempertahankan gelar bangsawan keluarganya, ia terpaksa menyamar sebagai pria bernama “He Ru Fei”. Dengan identitas palsu tersebut, ia membuktikan diri di medan perang, mengukir namanya sebagai jenderal legendaris yang disegani.
Namun, kejayaan tersebut harus dibayar mahal. Setibanya di tanah air, He Yan justru menghadapi pengkhianatan dari kakak kandungnya sendiri yang mencoba merebut pujian atas kemenangannya.
Diracuni dan ditinggalkan di ambang kematian, He Yan menolak nasib buruk tersebut. Ia berhasil selamat dan memulai hidup baru sebagai putri petugas gerbang kota.
Tekadnya untuk merebut kembali kehidupannya mendorongnya untuk kembali menyamar sebagai pria dan mendaftar di militer Yezhou. Di sinilah ia kembali berinteraksi dengan Xiao Jue (Ryan Cheng), seorang komandan yang tajam dan tangguh, yang pernah menjadi koleganya di Akademi Xianchang.
Hubungan mereka yang awalnya dipenuhi kecurigaan—di mana Xiao Jue sempat menduga He Yan adalah mata-mata—perlahan berubah.
Melalui serangkaian pertempuran sengit, perjuangan hidup mati, dan pertahanan krusial Rundu, kepercayaan tumbuh menjadi rasa hormat, dan akhirnya bersemi menjadi cinta yang dalam.
Pemeran utama wanita, He Yan, yang diperankan dengan apik oleh Zhou Ye, telah dinobatkan sebagai salah satu karakter C-Drama terbaik tahun ini. Penggambarannya menunjukkan esensi seorang wanita yang sukses menempa takdirnya sendiri, terlepas dari sambutan adaptasi drama yang beragam.
Jika kisah He Yan dalam “Legend of the Female General” telah memicu kerinduan Anda akan pahlawan wanita yang kuat dan berani, berikut adalah 5 rekomendasi drama sejarah Tiongkok lainnya yang wajib Anda tonton.
5 Rekomendasi Drama Sejarah Tiongkok
The Double
Diadaptasi dari novel Qian Shan Cha Ke “Marriage of the Di Daughter”, drama sejarah Tiongkok 40 episode ini berpusat pada Xue Fang Fei (Wu Jin Yan), putri seorang pejabat terhormat yang hidupnya hancur berantakan ketika keluarganya dituduh secara palsu dan dihancurkan.
Dikhianati oleh suaminya, Shen Yu Rong (Liang Yong Qi), dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat, ia secara ajaib selamat berkat Jiang Li (Yang Chao Yue), putri seorang pejabat tinggi.
Sebelum kematiannya, Jiang Li mempercayakan identitasnya kepada Xue Fang Fei, memberinya kesempatan untuk memulai kembali. Dengan menggunakan nama dan penampilan Jiang Li, Xue Fang Fei kembali ke ibu kota, bertekad untuk mengungkap kebenaran dan membalas dendam kepada mereka yang telah berbuat salah padanya. Perjalanannya membawanya ke dunia politik istana yang berbahaya, rahasia, dan pengkhianatan.
Di sepanjang perjalanan, ia bertemu dengan Adipati Xiao Heng (Wang Xing Yue), seorang bangsawan jujur yang awalnya mencurigainya tetapi lambat laun menjadi sekutu terkuatnya. Kemitraan mereka perlahan berkembang menjadi romansa yang menyentuh hati saat mereka berjuang berdampingan demi keadilan.
Salah satu drama sejarah Tiongkok yang paling direkomendasikan, dalam drama ini, Xue Fang Fei bukanlah pahlawan wanita yang pasif. Ia cerdas, banyak akal, dan gigih, mengandalkan kecerdasan dan strateginya sendiri untuk membalikkan keadaan melawan musuh-musuhnya. Ia mengendalikan nasibnya sendiri, menjadikannya sosok yang menyegarkan sekaligus tak terlupakan.
My Journey To You
Diadaptasi dari novel “Yun Zhi Yu” karya Gu Xiao Sheng, drama sejarah Tiongkok ini mengikuti Yun Wei Shan (Yu Shu Xin), seorang pembunuh bayaran yang dibesarkan oleh organisasi Wufeng yang kejam. Dikendalikan oleh racun dan dipaksa menjalankan misi, ia mendambakan kebebasan.
Kesempatannya datang ketika ia dikirim untuk menyusup ke keluarga Gong yang berkuasa dengan menyamar sebagai calon pengantin. Di dalam keluarga Gong, jalannya bertemu dengan Gong Ziyu (Zhang Ling He), seorang tuan muda yang riang yang tiba-tiba diangkat menjadi pemimpin setelah kematian ayah dan saudara laki-lakinya. Meskipun tidak berpengalaman, ia harus segera belajar melindungi klannya.
Yang mengejutkannya, Ziyu bertemu dengan sifat Yun Wei Shan yang tertutup dengan kepercayaan dan kebaikan, membangkitkan emosi yang tak terduga. Saat pengkhianatan bergolak di dalam keluarga Gong, dan cengkeraman Wufeng semakin erat, baik Yun Wei Shan maupun Ziyu terlibat dalam perjuangan untuk bertahan hidup. Bersama mereka, Ryan Cheng, Lu Yu Xiao, Tian Jia Rui, dan Jin Jing menghadirkan lapisan konflik dan intrik dalam kisah keluarga Gong.
Menandai perubahan dari karakternya yang ceria dan seperti gadis tetangga, Yu Shu Xin mendalami karakter Yun Wei Shan yang kompleks dengan pengendalian diri dan kedalaman yang luar biasa. Sebagai seorang pembunuh yang dipaksa masuk ke kediaman Gong dengan menyamar sebagai pengantin, Yun Wei Shan tampak tajam, penuh perhitungan, dan selalu berada dalam mode bertahan hidup.
Namun, di balik sikapnya yang tenang dan waspada, ia adalah seorang perempuan yang terluka oleh kehidupan yang penuh kendali dan kekerasan, mendambakan kebebasan yang tak pernah ia rasakan. Peran ini menjadi salah satu penampilannya yang paling memikat hingga saat ini.
The Long Ballad
Berdasarkan manhua karya Xia Da, “Chang Ge Xing”, serial ini berlatar belakang tahun-tahun penuh gejolak Dinasti Tang. Kisahnya dimulai pada tahun 626 M, saat Insiden Gerbang Xuanwu, ketika Pangeran Li Shi Min merebut kekuasaan melalui kudeta berdarah. Di antara mereka yang terdampak pembantaian tersebut adalah keluarga Li Chang Ge (Dilraba Dilmurat), putri Putra Mahkota.
Bertahan hidup dari pembantaian tersebut, Chang Ge hanya dirundung duka dan sumpah yang membara untuk membalaskan dendam ayahnya. Cerdik, ahli strategi, dan terampil dalam pertempuran, ia menyamar sebagai seorang pria dan memulai perjalanan balas dendam yang berbahaya. Namun, misinya berubah secara tak terduga ketika ia bertemu dengan Ashile Sun (Wu Lei), Tegin yang tangguh dan tangguh dari suku Ashile.
Perselisihan yang awalnya merupakan konflik antara penculik dan tawanan perlahan berubah menjadi aliansi yang dibangun di atas rasa hormat, dan akhirnya, ikatan yang menantang semua yang ia pikir ia inginkan. Saat Chang Ge mengarungi perubahan loyalitas, kampanye militer, dan politik dua negara, ia mendapati pencarian balas dendam pribadinya bertolak belakang dengan kewajiban yang lebih besar yang ia rasakan terhadap rakyatnya.
Melalui perang dan pengorbanan, pengkhianatan, dan kepercayaan yang diperoleh dengan susah payah, ia tumbuh dari seorang putri yang berduka menjadi seorang pemimpin yang mulai lebih menghargai perdamaian daripada pertumpahan darah. Drama sejarah Tiongkok ini semakin diperkaya oleh Zhao Lu Si sebagai Li Le Yan yang baik hati, Liu Yu Ning sebagai Hao Du yang tabah, dan Alen Fang sebagai Wei Shu Yu yang setia.
Li Chang Ge dipuja sebagai sosok pahlawan wanita yang langka — sungguh kuat, bukan hanya namanya. Ia cerdas, lincah, dan ahli strategi yang mampu mengendalikan nasibnya sendiri. Namun, ia juga tidak sempurna. Impulsif, pergulatan emosional, dan kesalahan langkah yang sesekali dilakukannya membuatnya terasa membumi dan nyata.
Menyaksikannya berevolusi dari seorang putri yang dilanda duka yang ingin membalas dendam menjadi seorang pemimpin yang memprioritaskan rakyatnya memberikan bobot sekaligus makna mendalam pada cerita ini. Bersamanya, perjalanan Li Le Yan menawarkan salah satu kisah paling berkesan dalam serial ini. Ia awalnya pemalu dan terlindungi, ragu akan dirinya sendiri dan tempatnya di dunia. Namun, setelah dilempar ke dalam kesulitan dan melihat kehidupan di luar tembok istana, ia tumbuh menjadi wanita yang welas asih dan tangguh yang bertekad untuk membuat perubahan.
Blossom
Berdasarkan novel Zhi Zhi “Jiu Chong Zi”, kisah ini mengisahkan Dou Zhao (Meng Zi Yi), putri keluarga Dou yang terabaikan, yang kehidupan pertamanya berakhir tragis. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, ia dikhianati oleh suami dan saudara tirinya, dan kemudian menyadari bahwa ibu tirinya telah meracuninya selama ini.
Tepat ketika kebenaran terungkap, hidupnya berakhir tragis — berakhir di samping Song Mo (Li Yun Rui), seorang jenderal misterius yang nasibnya terjalin dengannya. Namun takdir memberinya kesempatan lain. Terlahir kembali menjadi dirinya yang lebih muda, Dou Zhao terbangun dengan kesadaran menyakitkan akan segala hal yang menantinya jika ia membuat pilihan yang sama. Kali ini, ia menolak menjadi korban.
Bertekad untuk melepaskan diri dari kendali keluarganya dan menghindari pernikahan yang pernah menghancurkannya, ia memulai jalan baru, berbekal kebijaksanaan yang diperoleh dengan susah payah dan bimbingan dari sebuah kitab nubuat. Perjalanannya membawanya kembali kepada Song Mo, sang jenderal muda. Awalnya terikat oleh kecurigaan dan keadaan, keduanya mendapati diri mereka bersekutu di dunia yang penuh intrik politik dan musuh tersembunyi. Apa yang awalnya merupakan persatuan praktis segera berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam: hubungan yang dibangun di atas kepercayaan, kesetiaan, dan perjuangan bersama.
Bersama-sama, mereka menghadapi pengkhianatan dan kesetiaan yang berubah-ubah, melindungi orang yang mereka cintai, dan menavigasi skema berbahaya yang mengancam keluarga mereka. Kisah asmara mereka yang berkembang perlahan tumbuh bukan karena kenyamanan, melainkan karena ketangguhan dan rasa saling menghormati, membuktikan bahwa cinta dapat berakar bahkan di tanah yang paling keras sekalipun. Drama sejarah Tiongkok ini juga menampilkan Kong Xue Er sebagai Miao An Su dan Xia Zhi Guang sebagai Ji Yong.
Dou Zhao adalah seorang pahlawan wanita yang cerdas dan mandiri yang mengendalikan takdirnya sendiri. Alih-alih menunggu untuk diselamatkan, ia menggunakan pelajaran dan pandangan jauh ke depan dari kehidupan masa lalunya untuk melindungi keluarganya dan mengubah nasib mereka. Ia jelas merupakan ahli strategi sejati dalam cerita ini — yang membimbing pemeran utama pria dan mengalahkan musuh-musuhnya.
Kombinasi kecerdasan, ketahanan, dan kesetiaannya menjadikannya sebuah terobosan yang menyegarkan dari arketipe “gadis dalam kesulitan” yang umum. Drama ini juga menuai pujian atas peran-peran pendukungnya yang dikembangkan dengan baik. Dari sekutu seperti Dou Ming hingga tokoh yang lebih kompleks seperti istri Putra Mahkota, masing-masing memiliki suara dan tujuan tersendiri dalam cerita.
Flourished Peony
Berdasarkan novel “Guo Se Fang Hua”, drama sejarah Tiongkok ini menghadirkan kembali pasangan populer “Go Go Squid”, Yang Zi dan Li Xi An. Drama sejarah Tiongkok ini mengisahkan He Wei Fang (Yang Zi), putri seorang pedagang yang hidupnya dijungkirbalikkan oleh takdir yang kejam. Demi menyelamatkan ibunya yang sakit, ia terpaksa menikah, yang dengan cepat terbukti hampa dan menyesakkan. Dikhianati oleh mertuanya dan hancur oleh kematian ibunya, Wei Fang membuat keputusan berani yang hanya berani dilakukan oleh sedikit wanita di zamannya — ia menceraikan suaminya dan memilih jalannya sendiri.
Perjalanannya membawanya ke Chang’an, jantung Dinasti Tang yang semarak. Di sana, ia menekuni bakat uniknya dalam membudidayakan bunga peony langka, menggunakan keahliannya tidak hanya untuk bertahan hidup tetapi juga untuk membangun mata pencaharian. Apa yang awalnya merupakan upaya kecil untuk mandiri segera berkembang menjadi bisnis yang berkembang pesat. Lebih dari itu, bisnis tersebut menjadi tempat berlindung bagi wanita lain yang, seperti dirinya, telah disakiti atau disingkirkan. Usaha Wei Fang berkembang menjadi tempat pembaruan, tempat ketahanan dipupuk dan martabat dipulihkan.
Di tengah transformasi ini, Wei Fang bertemu dengan Jiang Chang Yang (Li Xi An), seorang pejabat cerdas dengan reputasi berbahaya. Bagi dunia, ia tampak korup dan penuh perhitungan, tetapi di balik penampilannya, ia menyimpan seorang pria yang kesetiaannya kepada negara begitu mendalam.
Hubungan mereka berawal sebagai kemitraan praktis, yang lahir dari ambisi bersama, tetapi secara bertahap berkembang menjadi sesuatu yang lebih kaya — sebuah aliansi yang dibangun di atas rasa saling percaya, rasa hormat, dan mekarnya kasih sayang secara perlahan.
Di tengah pemberontakan yang berkobar dan intrik politik yang mengancam akan menjungkirbalikkan kekaisaran, Wei Fang dan Chang Yang bersatu, tak hanya mengarungi bahaya istana tetapi juga kompleksitas cinta, kekuasaan, dan kesetiaan.
Melalui perjuangannya, Wei Fang muncul lebih dari sekadar penyintas — ia menjadi simbol keberanian, mengubah duka menjadi kekuatan, dan merebut kembali haknya untuk hidup dengan caranya sendiri. Serial ini juga dibintangi Wei Zhe Ming sebagai Liu Chang dan Zhang Ya Qin sebagai Li You Zhen.
Inti dari drama sejarah Tiongkok ini adalah He Wei Fang, yang lebih dikenal sebagai Mudan, seorang tokoh yang langsung menjadi favorit penonton. Ia digambarkan sebagai seorang pebisnis wanita yang cerdas dan percaya diri dengan bakat langka dalam membudidayakan bunga peony.
Bahkan ketika ia mencari bantuan, ia melakukannya sebagai mitra yang setara, alih-alih sebagai bawahan. Salah satu kekuatan utama drama sejarah Tiongkok ini adalah penggambaran persahabatan antar perempuan. Drama sejarah Tiongkok ini juga menuai pujian karena penggambaran berlapis-lapis tentang kewanitaan di dunia yang patriarki. Drama ini juga memiliki sekuel berjudul “In The Name Of Blossom”. (*)
