Terbangun Dini Hari dan Tidak Bisa Tidur Lagi? Kenali Gejala dan 3 Penyebab Late Insomnia

Avatar of Lintang
Ilustrasi seseorang terbangun dini hari. (Shutterstock)
Ilustrasi seseorang terbangun dini hari. (Shutterstock)

Kesehatan, Kabarterdepan.com – Istilah insomnia atau sulit tidur mungkin sudah tidak asing di telinga. Namun, pernahkah Anda mendengar tentang ‘late insomnia’? Kondisi ini merupakan salah satu gangguan tidur yang membuat seseorang terbangun lebih awal, bahkan terbangun dini hari, dan tidak bisa kembali terlelap. Fenomena ini berbeda dari insomnia pada umumnya yang berfokus pada kesulitan memulai tidur.

Menurut ahli spesialis tidur, Angela Holliday-Bell, late insomnia terjadi ketika Anda terbangun lebih cepat dari jadwal yang diinginkan dan tidak mampu untuk tidur lagi, meskipun tubuh masih merasa lelah. Gangguan ini sering kali terjadi tanpa disengaja, membuat penderitanya merasa frustasi dan kekurangan waktu istirahat.

Ketika Tubuh Terbangun Dini Hari / Lebih Awal

Meskipun bukan diagnosis medis resmi, ahli saraf tidur Meredith Broderick menjelaskan bahwa late insomnia menggambarkan pola tidur seseorang yang terbangun secara spontan sekitar 1,5 hingga 2 jam lebih awal dari yang seharusnya.

Kondisi ini mungkin tidak menjadi masalah jika terjadi sesekali. Namun, jika terjadi setidaknya tiga kali dalam seminggu selama tiga bulan berturut-turut, maka hal itu sudah bisa disebut sebagai late insomnia.

Pola tidur yang terganggu secara konsisten ini dapat berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental. Kurangnya tidur berkualitas bisa memicu kelelahan kronis, penurunan konsentrasi, hingga masalah mood.

Berbagai Penyebab di Balik Late Insomnia

Dilansir dari berbagai sumber, Kamis (25/9/2025), berikut adalah beberapa penyebab yang sering dikaitkan dengan late insomnia:

1. Ritme sirkadian berubah seiring pertambahan usia

Ritme sirkadian berubah seiring bertambahnya usia. Hal ini bisa menyebabkan late insomnia, dengan gejala mengantuk dan bangun lebih awal dari biasanya.

Tak hanya itu, produksi melatonin juga akan menurun saat usia bertambah. Hal ini perlahan dapat memengaruhi kualitas tidur.

2. Pergeseran hormonal

Bagi wanita, perimenopause dan menopause dapat menyebabkan gangguan tidur, termasuk late insomnia. Pada masa ini, wanita mengalami penurunan kadar estrogen dan progesteron yang dapat memengaruhi pusat tidur dan ritme sirkadian otak.

Perubahan tersebut dapat memicu terbangun dini hari, utamanya jika dikombinasikan dengan peningkatan kortisol dan ritme sirkadian yang tidak teratur.

Holiday-Bell mengatakan, kadar estrogen yang lebih rendah juga dapat membuat wanita mengalami tidur ringan dan terfragmentasi.

“Banyak wanita menopause mengalami keringat malam dan hot flashes yang membangunkan mereka di pagi hari dan membuat mereka sulit tidur kembali,” ujarnya.

3. Depresi dan kecemasan

Beberapa penelitian menemukan, late insomnia juga jadi salah satu tanda masalah mental seperti depresi dan gangguan cemas.

Depresi, misalnya, dapat menyebabkan terbangun dini hari karena perubahan ritme sirkadian dan meningkatkan kadar kortisol di waktu tersebut.

Tidur menjadi salah satu kunci utama kesehatan secara menyeluruh. Segera kenali penyebab selalu terbangun lebih awal agar tidur kembali berkualitas dan kesehatan tetap terjaga. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page