Alat Pencacah Sampah untuk Pupuk Kompos di Pasar Pasty Masih Minim, Wali Kota Yogyakarta: Bisa Pakai Karung

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. (Hadid Husaini)
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. (Hadid Husaini)

Yogyakarta, kabarterdepan.com – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan pengolahan sampah jalanan di pasar ikan Pasty tidak harus melalui proses cacah. Sebab saat ini mesin cacah belum mencukupi.

Ia mengatakan hal itu bisa diatasi dengan cara dimasukkan ke dalam karung. Sampah-sampah itu bisa diolah menjadi pupuk melalui Unit Pupuk Organik (UPO).

“Kita nggak harus pakai pencacah, kalau alatnya kurang, kita akab beli karung lalu disiram. Jujur tidak harus dicacah, karena kondisi alatnya terbatas,” katanya saat diwawancarai di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (23/9/2025).

Menurut Wali Kota Hasto, sejumlah alat pencacah dianggap kurang layak karena kondisinya yang sudah berkarat dan rapuh.

Selain masalah alat, masalah sumber daya manusia (SDM) masih sangat terbatas. Pengolah sampah tersebut hingga saat ini jumlahnya baru 5 orang berasal dari bidang plasma nutfah Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta dengan ketugasan yang berbeda.

Kendati begitu ia menyampaikan petugas pengolah sampah sapuan jalanan juga akan dibantu oleh tenaga masyarakat melalui Juru Olah Sampah (Jumilah).

“Tenaga baru ada 5, tapi saya punya tenaga cadangan 90 untuk Jumilah, jadi kemana saja membantu di situ, nanti di tempat lain,” katanya.

Ia menyampaikan dengan infrastruktur pengolahan sampah saat ini bisa mengurangi jumlah sampah sebanyak 20 ton dalam sehari.

Harapan Wali Kota Yogyakarta

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. (Hadid Husaini)

Ia berharap melalui UPO, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bisa menciptakan pupuk sendiri tanpa harus bergantung kepada daerah lain melalui manajemen yang terintegrasi.

“Ini menjadi nilai ekonomis karena komposter ini nggak perlu lagi beli ke Magelang, ke Gunungkidul, kita bisa pakai srintil wedus sendiri saja,” katanya.

Hasto menambahkan, sampah sapuan jalanan juga bisa menjadi pemasukan masyarakat jika memiliki alat composting.

“Jika masyarakat memiliki alat composting maka bukan tidak mungkin bisa menjadi sumber penghasilan,” katanya.

“Tapi sebenarnya sampah organik basah sisa makanan itu sebenarnya kalau dikelola bisa membuat suatu nilai ekonomi,” jelasnya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page