
Surabaya, kabarterdepan.com– Stanford University kembali merilis daftar 2% ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Dalam daftar ini terdapat 209 peneliti asal Indonesia, salah satu diantaranya adalah dosen muda Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), yakni Achmad Syafiuddin.
Achmad Syafiuddin saat ini menempati peringkat 17, capaian ini tentu saja menjadi prestasi luar biasa bagi ilmuwan muda yang sehari-hari mengajar di Program Studi Kesehatan Masyarakat Unusa.
Perjuangan Dosen Muda Achmad Syafiuddin
Achmad Syafiuddin sendiri lahir di Madura sebagai anak yatim, ia dibesarkan seorang diri oleh sang ibu yang berprofesi sebagai penjual jamu keliling.
Hidup dengan keterbatasan ekonomi tidak membuat Achmad Syafiuddin berkecil hati dan menyerah, dirinya berusaha keras meraih mimpi hingga akhirnya berhasil menembus perguruan tinggi bergengsi Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui beasiswa Bidik Misi 2010.
Usai lulus di IPB, Dirinya melanjutkan pendidikan gelar magister dan doktor di Universiti Teknologi Malaysia.
Kini, di usia muda, ia dipercaya sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unusa dan diangkat sebagai Adjunct Professor di Saveetha Institute of Medical and Technical Sciences (SIMATS), India, sebuah kampus yang menduduki peringkat 26 dunia dalam QS World University Rankings tahun 2025 ini.
Berbeda dengan banyak peneliti yang mengincar laboratorium modern, Syafiuddin justru menjadikan pesantren sebagai ruang utama kontribusinya.
Ia mendirikan Center for Environmental Health of Pesantren (CEHP) di Unusa, pusat riset pertama dan satu-satunya di Indonesia yang fokus pada masalah kesehatan lingkungan pesantren.
“Ilmu itu harus kembali ke masyarakat. Pesantren, sebagai bagian penting bangsa ini, berhak mendapatkan solusi atas masalah lingkungan yang mereka hadapi,” katanya, Minggu, (21/09/2025).
Hingga kini, ia telah menulis 124 publikasi ilmiah terindeks Scopus dengan H-Index 30, sebuah angka yang menegaskan konsistensinya sebagai peneliti kelas dunia. (Husni Habib)
