
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Batalnya event Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2025 membuat sejumlah budayawan Yogyakarta merasa kecewa.
Anditya, salah satu budayawan sekaligus sutradara WJNC asal Kemantren Jetis Kota Yogyakarta menyampaikan pihaknya hanya bisa pasrah.
Menurutnya, pembatalan WJNC karena efisiensi anggaran serta pemerintah merupakan kebijakan sangat kurang tepat mengingat kegiatan tersebut telah menjadi 10 besar agenda pariwisata nasional.
“Gelo ya gelo (kecewa ya kecewa), tapi kita nggak bisa apa-apa. Untungnya Kemantren Jetis belum persiapan (tampil di WJNC), karena ada yang sudah nyicil kostum, itu duite nggak balik (uangnya tidak diganti),” katanya saat diwawancarai, Selasa (16/9/2025).
Anditya menyebut sejumlah pihak peserta WJNC telah menggunakan modal pribadi, dan baru diganti oleh panitia setelah penyelenggaraan.
Sebelumnya, Kemantren Jetis selalu tampil memuaskan dalam gelaran atraksi pewayangan orang yang menawarkan berbagai cerita tersebut, bahkan mendapatkan sejumlah penghargaan.
Ia menyampaikan, jika WJNC tahun ini digelar, pihaknya berniat menambah sejumlah penghargaan atas pertunjukan wayang yang ditampilkan.
Bicara soal kondusifitas, Anditya menyampaikan adanya WJNC tidak akan memancing kemarahan publik, karena bersifat kesenian dan kebudayaan.
“Rawannya demo dibandingkan rawannya kumpul-kumpul malam pagelaran kan lain. Tapi ya sudah kalau keadaanya seperti itu,” katanya.
Salah satu alasan agenda tahunan nasional tersebut dibatalkan karena pemerintah melakukan efisiensi anggaran.
Anditya yang juga Ketua RW 10 Jogoyudan, Jetis, Kota Yogyakarta menyebut anggaran kelurahan di kampungnya dipangkas hingga Rp350 juta dari pemerintah daerah.
Sebagai seniman, Anditya kerap menerima permintaan untuk membina sejumlah seniman muda.
“Terus terang, banyak dari para seniman-seniman itu ingin tampil kalau saya sudah tua hanya mengarahkan, dan memperhatikan seniman muda,” katanya.
Ia mengaku tidak ingin menghabiskan waktu dan emosi untuk meminta kegiatan.
“Bukan kok mutung (cemburu), tapi percuma juga pemerintah yang punya uang,” pungkasnya. (Hadid Husaini)
