
Internasional, Kabarterdepan.com – Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan Deklarasi New York yang menawarkan solusi damai bagi konflik Israel-Palestina, Jumat (12/9/2025).
Deklarasi ini disusun tanpa melibatkan Hamas dan menekankan pada upaya mengakhiri perang di Gaza melalui jalur diplomasi.
Dalam pemungutan suara, sebanyak 142 negara mendukung, 10 negara menolak, dan 12 negara memilih abstain. Negara-negara yang menolak antara lain Israel, Amerika Serikat, Argentina, Hongaria, Mikronesia, Nauru, Papua Nugini, Palau, Paraguay, dan Tonga.
Sementara itu, negara yang abstain termasuk Republik Ceko, Kamerun, Republik Demokratik Kongo, Ekuador, Etiopia, Albania, Fiji, Guatemala, Samoa, Makedonia Utara, Moldova, dan Sudan Selatan.
Menurut keterangan resmi PBB, deklarasi tersebut menekankan pentingnya tindakan kolektif untuk mengakhiri perang di Gaza serta mendorong solusi dua negara yang adil dan damai.
Deklarasi ini sebelumnya telah mendapatkan dukungan Liga Arab dan ditandatangani pada Juli 2025 oleh 17 negara anggota PBB. Dokumen itu tidak hanya mengutuk Hamas, tetapi juga menuntut agar kelompok tersebut dicabut dari kepemimpinan di Gaza.
“Dalam konteks mengakhiri perang di Gaza, Hamas harus mengakhiri kekuasaannya dan menyerahkan persenjataannya kepada Otoritas Palestina dengan keterlibatan serta dukungan internasional, demi tercapainya Negara Palestina yang berdaulat dan merdeka,” bunyi salah satu poin deklarasi dilansir dari Times of Israel.
Namun, Israel secara tegas menolak resolusi ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menyebut Deklarasi New York sebagai langkah yang bias dan justru memberi keuntungan bagi Hamas.
“Majelis Umum adalah sirkus politik. Dalam puluhan klausul deklarasi ini, tidak ada satu pun yang menyebut Hamas sebagai organisasi teroris,” tulis Marmorstein dalam pernyataan resmi melalui akun X.
Marmorstein juga menuding resolusi PBB tersebut mengabaikan fakta bahwa Hamas masih menahan sandera dan menolak untuk melucuti senjata.
“Resolusi ini tidak memajukan perdamaian, melainkan memberi dorongan bagi Hamas untuk melanjutkan perang,” tegasnya. (Riris)
