Perempuan Pembawa Sial Diputar di Matos, Film Perpaduan Tradisi Jawa dan Mitos Kuno Bahu Laweyan

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 09 13 at 19.25.21 954455b0
Masyarakat Kota Malang usai menonton film Perempuan Pembawa Sial di Cinepolis Cinema Matos, Kota Malang. (Yan)

Malang, Kabarterdepan.com – Film horor terbaru yang di sutradarai oleh Fajar Nugros, Perempuan Pembawa Sial, semakin dinantikan publik setelah trailer resminya di kanal YouTube hingga kini meraih lebih dari 70 ribu tayangan hanya dalam beberapa waktu saja.

Dengan launching perdana film Perempuan Pembawa Sial yang digelar di Cinepolis Cinemas, Malang Town Square (Matos), Kota Malang, pada Sabtu (13/9/2025).

Film horor terbaru Perempuan Pembawa Sial akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 September 2025 mendatang.

Film ini mengangkat mitos Jawa kuno Bahu Laweyan, yang dipercaya membawa kutukan mematikan bagi pria yang berhubungan dengan perempuan yang memilikinya.

Sebelumnya, Perempuan Pembawa Sial pertama kali diputar di festival film JAFF (Jogja Netpac Asian Film Festival) 2024, di mana film ini memenangkan penghargaan best editing.

Sama halnya saat diputar di Matos, Kota Malang antusiasme warga masyarakat Kota Malang ini menjadi sinyal kuat, bahwa film produksi IDN Pictures tersebut siap menarik perhatian pecinta horor lokal serta dengan judulnya yang provokatif, alur cerita yang berakar pada mitos jawa, serta deretan pemain ternama disebut menjadi faktor yang memicu rasa penasaran penonton.

Film ini berfokus pada karakter Mirah yang diperankan oleh Raihaanun, seorang wanita muda yang hidupnya dihantui oleh kutukan tersebut.

Tak hanya itu, Mirah juga kerap dijauhi oleh masyarakat, hidup dalam kesepian, dan di setiap pria yang mendekatinya selalu mengalami kematian yang tragis.

Lalu, ia berharap bertemu Bana (Morgan Oey), seorang pemilik warung Padang yang menerima Mirah dengan sabar dan tulus.

Bak gayung bersambut, kisah cinta mereka pun tumbuh, mempertanyakan apakah kasih sayang dapat mematahkan sebuah kutukan.

Namun, kutukan tersebut ternyata ulah saudara tiri Mirah, Puti (Clara Bernadeth), yang menyimpan dendam, sehingga Mirah harus memilih antara cinta dan balas dendam, atau berjuang untuk mematahkan kutukan yang dimaksud.

Sementara itu, salah satu sosok ikonik di film ini maestro tari legendaris, Didik Nini Thowok, yang dalam film ini ia memerankan sebagai Mbah Warso dan semakin menambah atmosfer dan aura mistis, sekaligus memperkuat nuansa budaya Jawa yang diusung pada film Perempuan Pembawa Sial.

Kehadirannya bukan sekadar sebagai aktor, melainkan sebagai manifestasi dari ketakutan pribadi sang sutradara, Fajar Nugros.

Dalam sesi konferensi pers, Fajar Nugros blak-blakan mengaku bahwa keputusannya mengajak Eyang Didik berawal dari trauma masa kecilnya.

“Waktu saya masih SD, saya tidak sengaja melihat topeng Eyang Didik tergeletak di sebuah ruangan gelap saat beliau akan tampil. Gambaran itu begitu menakutkan dan terus membekas sampai sekarang,” ungkap Fajar Nugros, melalui rilis pers beberapa waktu lalu.

Trauma visual inilah yang kemudian ia terjemahkan menjadi salah satu sumber teror dalam film, membuktikan bahwa ketakutan paling otentik seringkali datang dari pengalaman personal yang paling dalam.

Kutukan Bahu Laweyan: Mitos yang Ternyata Hidup di Dunia Nyata

Fokus utama film ini, kutukan Bahu Laweyan, sering dianggap sebagai takhayul atau cerita pengantar tidur. Namun, Eyang Didik Nini Thowok, yang juga bertindak sebagai konsultan budaya dalam film ini, memberikan kesaksian mengejutkan. Pasalnya, dirinya mengonfirmasi bahwa kutukan hal itu bukanlah isapan jempol belaka.

“Saya memang punya teman yang terkena Bahu Laweyan. Saat itu, kami harus melakukan serangkaian ritual untuk mencoba membuang kutukan tersebut. Jadi, ini nyata, bukan cuma mitos,” ujar Eyang Didik kepada awak media, Sabtu (13/9/2025) melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp (WA).

“Waktu saya dengar cerita film ini mengangkat Bahu Laweyan, saya pikir, wah, berani juga ini,” ungkapnya.

Pengakuan ini sontak memberikan lapisan horor yang lebih pekat pada film, karena teror yang disaksikan penonton berakar pada sebuah kenyataan yang dipercaya oleh sebagian masyarakat.

Film Perempuan Pembawa Sial bukan hanya sekadar film horor yang mengadaptasi legenda Bahu Laweyan, tetapi juga menyimpan cerita personal yang mendalam dari sang sutradara, Fajar Nugros.

“Perempuan Pembawa Sial merupakan wadah untuk menuangkan semua ketakutan masa kecil saya, seperti saat berada di rumah sendirian,” ujar Fajar Nugros.

Dengan adanya pengalaman personal ini, kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita horor yang berbeda dari kebanyakan film horor lainnya, serta menghadirkan nuansa mistis dan emosional yang kuat.

“Harapan kami, dengan adanya perpaduan cerita personal yang kuat, dan unsur horor, serta kekayaan budaya lokal, film Perempuan Pembawa Sial ini diharapkan dapat memberikan pengalaman sinematik yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menggugah emosi penonton pecinta film horor,” tandasnya.

Production Notes “Perempuan Pembawa Sial”

Original Title : Perempuan Pembawa Sial

English Title : The Queen Of Witchcraft

Production Year : 2023

Duration (Minutes) : 97 Minutes

Director : Fajar Nugros

Producer : Susanti Dewi

Scriptwriters : Fajar Nugros, Husein M. Atmodjo

Executive Producers : Winston Utomo, William Utomo

Casting Directors : Team IDN Pictures, Ibnu Widodo ACI

Director Of Photography : Wendy Aga

Art Director : Angela Halim

Costume Supervisor : Fadillah Putri Yunidar

Key Makeup, Effect dan Hair : Cherry Wirawan

Editor : Wawan Idati Wibowo

Colorist : Sorawich Khunpinij

Vfx : Aftertake Post Production, Skybox Digital, The Organism

Sound Recordist : Hasanudin Bugo

Sound Design dan Mixing : Andre Harihandoyo

Music Composer : Ricky Lionardi

Kontak GoodWork Email : [email protected] (Yan)

Responsive Images

You cannot copy content of this page