Proyek Irigasi Dam Wonokerto Disoal, DPUPR Bantah Ada Ketidaksesuaian

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 09 11 at 11.42.39 c9a8e48a
Potret proyek irigasi Dam Wonokerto. (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Pimpinan DPRD Kabupaten Mojokerto melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke proyek pembangunan Dam Wonokerto di Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Rabu (10/9/2025).

Dalam sidak tersebut, rombongan DPRD menemukan sejumlah dugaan ketidaksesuaian pada proyek irigasi senilai Rp4,1 miliar yang dikerjakan oleh PT Cumi Darat Konstruksi.

Material proyek diduga menggunakan batu kali dan pasir hasil galian di lokasi tanpa dilakukan penakaran terlebih dahulu yang dinilai menyalahi aturan dan para pekerja juga disebut tidak menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Menanggapi hal tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Mojokerto menegaskan bahwa proyek Dam Wonokerto berjalan sesuai aturan.

Plt. Kepala DPUPR Kabupaten Mojokerto, Anik Mutammima Kurniawati, memastikan seluruh pekerja sudah dilengkapi alat pelindung diri (APD) serta terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan.

“Kami juga telah menerima bukti seluruh pekerja telah terdaftar semua di BPJS Ketenagakerjaan. Jadi secara peraturan memang sudah sesuai dengan aturan yang berlaku,” ungkap Anik, Kamis (11/9/2025).

Anik meminta semua pihak memberi ruang kepada DPUPR untuk menuntaskan proyek tersebut dengan dukungan penuh.

“Harapannya Dam Wonokerto ini nanti akan mengairi baku sawah sekitar 90 hektare. Luasan yang cukup besar menurut kami untuk meningkatkan perekonomian dan distribusi air irigasi bagi para petani sekitar,” lanjutnya.

Sementara itu, Kabid Sumber Daya Air DPUPR Kabupaten Mojokerto, Rois Arif Budiman, membantah tudingan penggunaan material galian tanpa standar.

Menurutnya, kondisi di lapangan memang belum sepenuhnya rapi karena volume galian yang besar dan medan yang sempit.

“Hal itu tidak benar, material yang kita gali itu memang volumenya besar, sampai ribuan meter kubik, sedangkan medan di lapangan luasannya sempit. Kita bertahap dalam hal dropping material ke bawah. Material hasil galian sebagian kita gunakan untuk timbunan kembali, dan itu memang diperkenankan,” jelas Rois.

Rois juga menambahkan bahwa seluruh peralatan K3 sudah tersedia di lokasi proyek, termasuk takaran untuk memastikan campuran sesuai spesifikasi.

“Semua peralatan lengkap sudah ada di lapangan, sedangkan untuk dolak atau takaran sudah siap dan dilaksanakan sehingga campuran bisa dimonitor,” tandasnya. (Riris)

Responsive Images

You cannot copy content of this page