
Yogyakarta, kaberterdepan.com – Gubernur DIY Sri Sultan HB X bertemu dengan sejumlah rektor dari berbagai kampus di DIY, Minggu (1/9/2025) malam.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Kepatihan kantor Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, Danurejan, Kota Yogyakarta, DIY, Ngarsa Dalem melakukan penyamaan persepsi terkait aksi unjuk rasa dengan para rektor agar bisa mengkondisikan mahasiswanya.
“Penyampaian aspirasi boleh, tidak ada yang melarang, tapi saya sampaikan untuk memunculkan demokratisasi di Yogyakarta, dilakukan dengan sopan, bukan dengan kekerasan,” pesan Ngarsa Dalem kepada para rektor.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) untuk menentukan sikap dalam melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Sultan menyebut bahwa sebelumnya banyak pelajar baik SMA hingga SMP terlibat dalam aksi unjuk rasa. Sultan berpesan agar pelajar tidak perlu ikut dalam aksi demonstrasi.
“Kalau tidak perlu ikut demo ya nggak usah bolos, karena anak-anak ini tugasnya bersekolah. Kalau dewasa kan sudah waktunya juga, tidak bisa kita melarang,” katanya.
“Bukan waktunya melarang, tapi bagaimana itikad baik tanpa harus ada korban atau ada kerusakan kerusakan yang bersifat anarkis,” ujar Ngarsa Dalem.
Sultan berharap aksi demonstrasi yang rencananya digelar di DPRD DIY bisa berjalan aman.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat UGM Arie Sujito menyampaikan bahwa kondisi anarki saat ini lebih parah dari era reformasi tahun 1998.
“Sekarang ini berbeda dengan sebelumnya sekarang ini potensi anarki gede banget, lebih sistematis. Ajakan Bapak Gubernur para rektor agar meyakinkan kalangan mahasiswa kita akan melindungi mahasiswa,” kata Arie.
Institusi pendidikan disebut Arie diminta Sultan untuk berpartisipasi menciptakan kondusifitas.
“Jangan sampai kita seperti horor di Jakarta, bahkan saya menyebut siaga satu ini desain siapa, bahwa ketegangan ini menciptakan horor mereproduksi simbol-simbol kekerasan, katanya.
Katy begitu, ia menuturkan bahwa kondisi demonstrasi saat ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan yang menuntut para masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.
“Ini negara demokrasi, dan saat ini situasinya memang seperti itu. Namun jangan sampai ada peluang yang dimanfaatkan untuk anarkisme,” kata Ari.
Sementara itu, Rektor Universitas Islam Indonesia Fathul Wahid menyampaikan pihaknya memastikan tidak memberi ruang bagi anarkisme, terutama dilakukan oleh mahasiswanya.
Pihaknya ingin menjaga situasi di Yogyakarta serta tradisi yang sejuk dalam menyampaikan aspirasi. “Tradisi di Yogyakarta selalu damai, harus selalu kita rawat,” ujarnya.
“Gita pastikan kalau ada gejala yang mulai tidak sehat saat saat menyampaikan aspirasi (anarkisme), kami meminta mahasiswa kami untuk menarik diri,” jelasnya. (Hadid Husaini)
