
Yogyakarta, kabarterdepan.com — Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta menyebut bau yang berasal dari limbah peternakan bisa menjadi permasalahan di kawasan perkotaan.
“Karena masalah di perkotaan itu kan baunya, ya harus ditangani semuanya,” jelas Kepala Bidang Perikanan dan Kehutanan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sri Panggarti saat diwawancarai di Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo San) Kamis (28/8/2025).
Ia menyampaikan pihaknya sempat mendapat satu laporan di Kemantren Kotagede terkait adanya limbah kandang ayam yang mengeluarkan bau kurang sedap.
“Kemarin itu sempat ada keluhan bau soal kandang ayam di Kotagede beberapa waktu lalu, jadi hanya pengelolaan limbahnya kotoranya itu yang harus dikelola dengan baik,” katanya.
Selain itu, ternak tersebut melepaskan ayamnya sehingga membuat warga merasa kurang nyaman. Hal tersebut menurutnya perlu kesadaran dari masyarakat dalam merawat ternaknya sehingga tidak menimbulkan kerugian masyarakat sekitar.
Jika terdapat keluhan terkait pengelolaan limbah yang kurang sesuai disebutnya dapat langsung diselesaikan oleh pemangku wilayah setempat. Meski begitu, Sri menyebut seharusnya tidak ada ego sektoral terhadap penanganan limbah bermasalah.
“Kalau untuk mengatasi kerukunan (akibat limbah) biasanya dengan lurah, biasanya akan mendapatkan laporan,” katanya.
Disamping itu, bau menjadi hal sensitif jika diketahui banyak orang.“Karena kadang-kadang laporan itu nggak mau tetangganya tau kalau dilaporkan,” ujar Sri.
Dirinya yang sempat bekerja di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Giwangan juga mengetahui betapa sensitifnya masalah bau limbah.
Pasalnya, tempat tersebut tidak hanya menjadi lokasi pemotongan hewan, namun juga memproduksi pupuk organik yang menjadi masalah jika memasuki musim penghujan.
“Alhamdulillah kita buatkan rumah pupuk, jadi kalau hujan produksinya banyak, kalau kena hujan bau, tapi sudah dikelola dengan baik,” katanya.
Ia menyampaikan bahwa sebelumnya terdapat 1 peternakan babi di Kota Yogyakarta yang dipermasalahkan oleh masyarakat, namun kini sudah berganti ke jenis peternakan lain.
“Kalau babi sementara kita tidak ada datanya, karena dulu pernah ada tapi diminta beralih setelah diprotes oleh tetangganya,” jelasnya.
Terkait limbah, disebutnya perlu dilihat bagaimana pola ternak yang dilakukan. Oleh karena itu, peternak perlu mengetahui cara langkah yang tepat dalam pengelolaannya.
“Kriteria pengelolaan yang baik itu ya kalau sudah tidak bau, makanya menangani ada caranya, limbah dikumpulkan nanti diberi probiotik,” katanya.
Pihaknya juga telah menggencarkan penyuluhan maupun pendampingan kepada para peternak di berbagai forum.
“Teman-teman penyuluh kan melakukan pendampingan, pasti (sosialisasi pengelolaan limbah) dilakukan. Pengelola dan budidaya ternak itu masalahnya dari A sampai Z, termasuk bagaimana bisa dikelola limbahnya,” jelansya. (Hadid Husaini)
