Semester I 2025, Produksi Mobil RI Turun Imbas Daya Beli Melemah

Avatar of Redaksi
IMG 20250827 WA0138 1
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian RI Surya Diarta saat memberikan keterangan pers. (Husni Habib/kabarterdepan.com)

Surabaya, kabarterdepan.com- Lemahnya daya beli masyarakat membuat beberapa produsen mobil mengurangi produksi mereka di sepanjang semester I 2025.

Berdasarkan Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan total produksi mobil nasional pada Januari–Juni 2025 turun 9.437 unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari 561.946 unit menjadi 552.509 unit.

Daihatsu dan Isuzu menjadi dua APM dengan penurunan produksi paling signifikan. Produksi Daihatsu pada semester I 2025 tercatat sebanyak 64.329 unit, turun 21.100 unit dibandingkan periode sama tahun lalu. Isuzu mencatatkan pengurangan produksi hingga 14.200 unit.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian RI Surya Diarta menegaskan jika produksi mobil sebenarnya masih relatif stabil. Tetapi memang diakui jika pasar mobil domestik tengah menghadapi berbagai tantangan oleh sebab itu sebagian diekspor ke luar negeri.

“Memang ada berbagai tantangan, tapi ini diimbangi dengan ekspor kita. Jadi dari kemampuan 1 juta unit per tahun itu diproduksi ada gitu. Cuman distribusinya saja yang biasanya dalam negeri proporsinya lebih besar,” jelas Surya saat ditemui usai membuka GIIAS Surabaya 2025, Rabu (27/08/2025).

Lebih lanjut, Surya menambahkan terkait dengan produsen komponen otomotif mobil dengan Internal Combustion Engine (ICE) juga menghadapi tantangan, hal ini dikarenakan saat ini banyak investasi yang datang untuk mobil listrik. Oleh sebab itu banyak produsen komponen otomotif juga mulai berpindah membuat perlengkapan untuk electrical accessories.

“Dengan investasi baru banyak mobil listrik. Kita perlu tantangan hadapi juga yang perubahan teman-teman yang ada di industri otomotif spare part ini juga untuk beradaptasi dengan komponen-komponen untuk kendaraan listrik,” tambahnya.

Tentunya perubahan ini membutuhkan transisi, oleh sebab itu pemerintah saat ini tengah mendorong agar produsen komponen otomotif untuk mulai bergabung untuk ekosistem di industri dirgantara, komponen pesawat dan kapal

“Kita dorong untuk gabung karena secara teknologi dan fasilitas mesin yang digunakan itu sama antara pesawat dan kapal, mereka membutuhkan presisi yang tinggi untuk komponen nya,” pungkasnya. (Husni Habib)

Responsive Images

You cannot copy content of this page