
Kesehatan, Kabarterdepan.com – Di tengah banyaknya informasi seputar kesehatan, klaim bahwa mengonsumsi bawang putih atau timun dapat menetralisir kolesterol tinggi menjadi perbincangan umum. Namun, apakah klaim ini sesuai dengan fakta medis? Untuk memahami jawabannya, kita perlu melihat lebih dalam tentang bagaimana tubuh memproduksi dan mengelola kolesterol.
Kolesterol sering kali disalahpahami sebagai zat yang langsung diserap dari makanan. Kenyataannya, kolesterol sebagian besar diproduksi oleh organ hati. Ini berbeda dengan trigliserida, jenis lemak yang memang dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan.
Setelah diserap, trigliserida kemudian diolah oleh hati menjadi berbagai jenis kolesterol. Proses inilah yang menghasilkan LDL (low-density lipoprotein), HDL (high-density lipoprotein), IDL (intermediate-density lipoprotein), dan VLDL (very low-density lipoprotein).
Di antara jenis-jenis kolesterol tersebut, LDL dikenal luas sebagai ‘kolesterol jahat’. Jika kadarnya terlalu tinggi, LDL dapat menumpuk di pembuluh darah, membentuk plak yang menyempitkan aliran darah. Penumpukan ini pada akhirnya meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.
Spesialis penyakit dalam dari Mayapada Hospital, dr Roy Panusunan Sibarani, SpPD-KEMD., FES., mengatakan, bawang putih hingga timun memang mengandung antioksidan yang dapat memberikan manfaat untuk kesehatan.
Namun, lanjutnya, belum ada penelitian yang spesifik terkait jumlah kandungan yang dibutuhkan agar berdampak langsung pada kadar kolesterol lantaran kebutuhan setiap orang berbeda.
“Antioksidannya ada. Tapi jumlah yang kita perlukan itu secara saintifik belum ada yang pas. Apakah orang Indonesia sama dengan orang China? Apakah orang Indonesia sama dengan orang Eropa? Nggak ada,” ujar dr Roy, dikutip Kamis (21/8/2025).
Menurutnya, penelitian terhadap makanan seperti bawang putih hingga timun di Indonesia untuk menetralisir kadar kolesterol masih terbilang cukup terbatas. Tak seperti di China dan Eropa yang kerap melakukan penelitian terhadap bahan alami tersebut.
“Di Eropa mereka sudah melakukan beberapa studi untuk ini juga ya. Di China juga, dia rajin banget bikin studi untuk bahan-bahan, makanan-makanan dasar setiap hari. Tapi di Indonesia kita belum. Jadi ya kami hanya mengambil beberapa dari luar negeri saja. Tapi ada, cuma dosisnya memang masih debatable, dan tiap orang beda,” terangnya. (*)
