
Surabaya, kabarterdepan.com- Terlahir dari keluarga sederhana rupanya bukan menjadi penghalang bagi Roihan Miftah Hilmiy untuk mengukir prestasi. Hidup sebagai anak yatim sejak usia 12 tahun, gadis asal Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto tersebut bekerja keras membantu ibunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Di sela-sela waktu sekolah, Roihan membantu sang ibu yang bekerja sebagai penjaga warung bakso. Usai sekolah Roihan membantu ibunya, lalu malamnya bekerja di kafe demi mendapatkan uang tambahan.
Sang ibu, Rida, bercerita jika Roihan merupakan sosok pekerja keras yang sangat menyayangi keluarganya. Sejak kecil dirinya tidak banyak meminta minta karena sadar kondisi keluarga yang pas pas an.
“Dia itu baik, suka bekerja keras. Saya tidak pernah memaksanya untuk bekerja, tetapi dia memang mau. Minta uang ke saya saja tidak pernah, minta pun itu 5 ribu kalau dia benar-benar tidak punya uang,” ujar Rida, Rabu, (13/08/2025).
Rida menambahkan sejak kecil keseharian Roihan penuh perjuangan. Saat teman-teman sebayanya menghabiskan waktu luang untuk bermain atau bersantai, Roihan justru memilih memanfaatkan waktu untuk mencari penghasilan.
Uang yang didapat ditabung untuk keperluan sekolah, jajan, hingga kebutuhan di rumah.
“Kalau makan, jajan, dia pakai uang sendiri. Tidak minta dari saya,” lanjut sang ibu.
Di sekolah Roihan juga dikenal sebagai sosok yang gigih dan tangguh. Di sekolah Roihan pernah menjadi atlet MMA yang mewakili sekolah di kejuaraan tingkat provinsi. Ketekunannya pun sangat dikagumi para guru, bahkan saat dirinya diterima di Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), tetapi terkendala biaya, salah satu guru, Lailatul tergerak untuk membantu.
Bersama beberapa guru dan alumni, ia menginisiasi penggalangan dana untuk membantu biaya masuk kuliah Roihan.
“Saya berpikir, anak seperti ini sayang kalau tidak kuliah hanya karena ekonomi. Dia punya potensi besar, semangatnya luar biasa. Dia santun, humble, rendah hati. Jadi kami guru-guru dan beberapa alumni patungan supaya dia bisa daftar,” ungkap Lailatul.
Gayung bersambut, keteguhan dan kegigihan Roihan pun sampai ke telinga pihak Unesa, hingga akhirnya Roihan dibebaskan dari Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama 8 semester.
Mendengar kabar tersebut Roihan pun merasa sangat senang dan bersyukur. Hal tersebut terjadi bagaikan mimpi, dirinya tidak menyangka dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi dengan beasiswa penuh 8 semester.
“Saya kaget sekaligus bersyukur. Rasanya seperti mimpi. Saya janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya yakin, ini juga berkat ibu, keluarga, para guru yang tidak pernah lelah berdoa untuk kebaikan saya,” pungkas Roihan. (Husni)
