Proses Panjang Suguhkan Cerita di Balik Karya Fotografi Mahasiswa Unriyo, Suguhkan Visualisasi Hingga Kampung 7

Avatar of Redaksi
IMG 20250811 WA0001
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) saat mempresntasikan karya foto jurnalistik di Pakuwon Mall Yogyakarta, Sleman, Yogyakarta, Minggu (10/8/2025). (Unriyo for kabarterdepan.com)

Sleman, kabarterdepan.com – Proses panjang dilalui oleh sejumlah mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) menciptakan sebuah karya foto yang bisa dinikmati.

Tidak hanya sekedar di balik lensa kamera, namun juga proses berpikir agar karya tersebut layak dinikmati khalayak luas.

Hal tersebut terlihat saat 10 karya foto terbaik mahasiswa dipamerkan di Pakuwon Mall Yogyakarta, Sleman, DIY selama 2 minggu belakangan.

Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Unriyo Mohammad Solihin menyampaikan bahwa sejumlah karya tersebut diperoleh dengan proses yang cukup lama.

Meskipun foto tersebut merupakan projek akhir, para dosen mengajarkan mahasiswa agar tidak membuat karya dengan asal-asalan.

“Satu semester mereka menghasilkan fotografi seperti ini, jadi bagaimana mereka karyanya dilihat sama orang sehingga mereka mereka jadi ada semangat bahwa karyanya bisa dilihat orang banyak,” katanya saat diwawancarai kabarterdepan.com, Minggu (10/8/2025).

Dosen asal Surabaya tersebut menyampaikan bahwa terdapat proses pendewasaan yang dilakukan melalui tugas-tugas yang diberikan.
Hal tersebut terlihat dari upaya yang dilakukan oleh mahasiswa.

Area tidak menjadi batasan bagi mahasiswa, sebagian dari mereka bahkan harus mendaki tempat-tempat tinggi. Beberapa dari mereka rela mengambil gambar hingga di kampung 7, Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul.

Proses ketat disebutnya menjadi syarat sebelum karya mahasiswa terpilih untuk dipamerkan. Konsultasi demi konsultasi dilakukan hingga kurasi dilakukan oleh para dosen kepada karya mahasiswa sebagai bentuk tanggung jawab.

“Mereka tidak hanya sekali untuk memotret, mereka berkali kali konsultasi terkait foto, jika hasilnya jelek, diulang lagi. Bahkan ada yang sampai 3 kali konsultasi,” katanya

“Tidak hanya motret, mereka juga membuat narasi. Sama dengan foto, kalau kurang bagus mereka harus diedit lagi (narasi). Jadi effort nya tidak hanya sekali,” imbuhnya.

Solihin menekankan bahwa dalam jurnalistik foto, sebuah gambar yang estetik tidak akan berhasil tanpa ada cerita. “Kami ingin memperkenalkan photo story menjadi kebutuhan di industri, kita bisa menjadi story teller melalui visual,” katanya.

Pengajar Foto Jurnalistik Ilkom Unriyo, Beky Subechi dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa saat ini merupakan eras visual story telling.

Ia yang terlibat menjadi kurator menyampaikan pihaknya berupaya memastikan karya yang ditampilkan oleh mahasiswa merupakan karya yang tidak asal buat.

“Makanya untuk photo story, mahasiswa saya tugas membuat proposal photostory, tema yang dipilih apa riset of interest (riset minat), dan segala macam. Maka saya minta agar karya yang dibuat tidak asal-asalan,” katanya.

Penguji Pewarta Foto Indonesia (PFI) ini juga mengharapkan karya foto jurnalistik menjadi acuan bagi siapapun agar tidak hanya menjadi karya biasa, namun juga memiliki nilai estetis dan faktual. (ADV/Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page